BERITA INDUSTRI

Manufaktur Jadi Penopang Utama Ekonomi


Sumber : Koran Sindo (22/03/2018)


JAKARTA - Kementerian Perindustrian menyatakan industri manufaktur masih menjadi penyokong utama pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini.


Data Kementerian Perindustrian menunjukkan tahun ini terdapat tujuh sektor unggulan manufaktur, yaitu logam dasar, makanan-minuman, alat angkutan, mesin dan perlengkapan, kimia, farmasi, serta elektronik. Seluruh sektor ini juga diyakini akan mendatangkan investasi yang sangat besar.


Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar mengatakan, tujuh sektor unggulan tersebut akan tetap menjadi fokus Kemenperin dalam meningkatkan pertumbuhan industri di Indonesia.


"Penyumbang terbesar kita yang utama itu ada diindustri makanan dan minuman yang menyumbang bagi PDB Industri pengolahan sekitar 33% dan masih menjadi andalan. Ada juga di farmasi, logam yang tahun ini akan ditambah kapasitasnya sejalan dengan smelter yang sudah berkembang," ujar Haris saat dihubungi di Jakarta kemarin.


Dia menjelaskan, pengembangan sektor manufaktur di kawasan industri dapat menjadi salah satu kunci terciptanya peningkatan produktivitas di kawasan tersebut sehingga dapat bersaing dalam skala nasional ataupun global. Apalagi saat ini, sektor manufaktur nasional diharapkan mampu menunjukkan kemampuan kompetitifnya di pasar internasional. Sebuah kawasan industri yang memiliki produk industri manufaktur yang berkualitas dan berdaya saing tinggi, tentunya akan menjadi modal utama kesiapan industri tersebut dalam menghadapi kompetisi global. "Industri kalau memiliki sistem yang baik, termasuk manufaktur dapat membuat Indonesia mampu berdaya saing yang tinggi," kata Haris.


Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang 2017 ekonomi Indonesia tumbuh 5,07% dengan nilai produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp13.588,8triliun. Dari jumlah tersebut, sektor manufaktur menyumbang PDB mencapai Rp2.739,4 triliun.


Menurut Haris, keberadaan industri manufaktur masih menjadi penyokong pertumbuhan ekonomi nasional yang didukung banyaknya investor mengembangkan sektor tersebut. Lalu, pertumbuhan industri manufaktur juga mendorong peluang lapangan kerja baru sehingga menciptakan multiplier effect serta mempercepat PDRB di daerah-daerah. "Kita menargetkan penyerapan tenaga kerja hingga 600.000 orang per tahunnya di sektor ini, di mana 63% masih terkonsentrasi di Pulau Jawa penyerapan tenaga kerjanya," katanya.


Saat ini banyak kawasan industri terutama di Pulau Jawa yang fokus mengembangkan sektor manufaktur, seperti Jababeka yang menyiapkan 50 hektare untuk 80 pabrik di wilayah Kendal.


Sebelumnya, Jababeka juga memiliki proyek di Cikarang, Jawa Barat, yang dikembangkan sebagai kawasan industri manufaktur elektronik dan automotif.


Di wilayah Banten, kawasan industri modern Cikande misalnya, juga diharapkan dapat menjadi salah satu kawasan pengembangan industri manufaktur, seperti industri baja, kimia, dan makanan. Di samping itu, ada pula investor global yang membangun kota industri Karawang New Industry City (KNIC) dan menyiapkan kluster industri manufaktur seperti Material Konstruksi (Construction Material), Layanan Logistik (Logistics), dan Fast Moving Consumer Goods/Food.


Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Sanny Iskandar sebelumnya mengatakan, adanya kawasan industri bertujuan untuk memajukan industri itu sendiri. "Kawasan industry goalsnya adalah industri. Mungkin masih ada yang merasa bagian dari properti, tapi kita lebih memfasilitasi industri manufaktur," katanya.


rakhmat baihaqi



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM