BERITA INDUSTRI

Defisit Perdagangan Masih Mengintai


Sumber : Bisnis Indonesia (22/03/2018)


JAKARTA - Ketergantungan pabrikan makanan dan minuman terhadap bahan baku impor, termasuk gula dan biji kakao mengakibatkan defisit neraca perdagangan.


Hingga November 2017, defisit neraca perdagangan industri makanan dan minuman mencapai US$1,2 miliar, naik dari defisit pada 2016 senilai US$888,40 juta.


Adhi S. Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan bahwa industri antara perlu dibangun sebagai penghubung industri hulu dan hilir untuk menekan impor.


"Daya saing menjadi tantangan untuk industri mamin. Kita harus bersama-sama untuk mengembangkan industri ini. Banyak yang harus dibenahi seperti regulasi dan ketersediaan bahan baku," ujarnya di selasela seminar tentang Strategi dan Inovasi Sektor Pangan: Menjawab Tantangan Era Industri 4.0 di Jakarta, Rabu (21/3).


Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan yang dipaparkan dalam seminar tersebut, hingga November 2017 Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan paling besar dengan Thailand, kemudian diikuti oleh China dan Australia.


Yunawati Gandasasmita, Head of Innovation Development Center Kalbe Nutritionals (PT Sanghiang Perkasa), menuturkan bahwa defi sit perdagangan ini menunjukkan ekspor produk makanan jadi masih lebih rendah dibandingkan dengan impor bahan baku mentah dan setengah jadi.


Padahal, pertumbuhan industri pangan dalam negeri sedang baik, tetapi seiring dengan pertumbuhan yang cukup tinggi, pabrikan membutuhkan bahan baku dan bahan antara yang sulit dipenuhi dari dalam negeri.


Impor paling besar adalah gula senilai US$1,85 miliar, disusul oleh biji kakao senilai US$446,22 juta, dan non-dairy creamer senilai US$106,56 juta. Selain itu, pabrikan banyak juga mengimpor bubuk coklat, suplemen, saus, kopi instan, dan sirup fruktosa.


Yuna menyebutkan, industri mamin, terutama pabrikan minuman jus, banyak mengimpor konsentrat. Padahal, konsentrat mangga, jambu, dan buah-buahan lain, seharusnya dapat dipenuhi dari dalam negeri karena banyak perkebunan buah ini di Tanah Air.


Industri pengolahan gula juga diharapkan dapat memproduksi gula sesuai dengan standar industri mamin. Seperti garam, gula untuk industri memiliki standar yang berbeda dibandingkan dengan gula konsumsi dengan kadar kejernihan yang lebih tinggi.


"Industri mamin hulu di Indonesia ada, hilirnya kuat, tetapi industri antara hilang sehingga harus impor negara lain. Harusnya dibangun industri antara yang terintegrasi dengan industri agro," jelasnya.


KONTRIBUSI TINGGI


Sementara itu, Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor produk mamin nasional pada 2017 senilai US$11,5 miliar, naik dibanding 2016 yang senilai US$10,43 miliar. Sementara itu, laju pertumbuhan industri mamin pada tahun lalu mencapai 9,23%.


Kontribusi industri mamin terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 6,14% dan terhadap PDB industri nonmigas mencapai 34,3%, memberikan kontribusi tertinggi dibandingkan dengan sektor lainnya pada tahun lalu.


Dari sisi investasi, penanaman modal dalam negeri (PMDN) pada industri ini mencapai Rp38,5 triliun, sedangkan penanaman modal asing (PMA) senilai US$1,97 miliar. Sektor industri mamin juga mampu menyerap banyak tenaga kerja, yakni lebih dari 3,3 juta orang.


Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pihaknya tengah memfokuskan lima sektor industri nasional yang bakal menjadi unggulan untuk memperkuat fundamental struktur manufaktur Tanah Air, terutama dalam mengimplementasikan sistem revolusi industri keempat, salah satunya adalah mamin, selain tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia.


Sektor-sektor tersebut akan didorong untuk menguasai teknologi yang menjadi ciri khas era industry 4.0, di antaranya kecerdasan buatan, internet of things, big data, robotik, dan pencetakan tiga dimensi.


"Dengan mereka menerapkan teknologi terkini, industri mamin atau sektor lainnya, mampu menjadi pengungkit dalam memacu pertumbuhan industri manufaktur nasional, termasuk menciptakan lapangan kerja," katanya.


Airlangga meyakini revolusi industri keempat akan menjadi lompatan besar bagi sektor industri nasional karena teknologi informasi dan komunikasi akan dimanfaatkan sepenuhnya. "Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai industri sehingga melahirkan model bisnis baru dengan basis digital untuk mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk lebih baik," ujar Airlangga.



Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018