BERITA INDUSTRI

Industri Manufaktur Mesti Jadi Prioritas


Sumber : Media Indonesia (20/03/2018)


Industri manufaktur memiliki peran besar dalam menumbuhkan produk domestik bruto (PDB). Oleh karena itu, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerintah mau tidak mau mesti serius meningkatkan kinerja industri di sektor tersebut.


“Harus ada upaya peningkatan produktivitas dan nilai tambah dari industri manufaktur jika pemerintah ingin mendongkrak ekspor yang muaranya juga untuk pertumbuhan ekonomi,” tegas ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, dalam diskusi Indonesia Industry Review di Universitas Mercu Buana, Jakarta, kemarin.


Selama ini, kata Faisal, target pemerintah yang menginginkan kinerja ekspor berbanding terbalik dengan upaya yang dilakukan dalam mengangkat industri manufaktur. Dia mengungkapkan, dalam 13 tahun terakhir kinerja industri manufaktur selalu berada di bawah PDB.


Termasuk pada tahun lalu ketika kinerja industri hanya 4,3%, sedangkan pertumbuhan ekonomi 5,07%. “Padahal idealnya industri manufaktur harus berada di atas PDB,” ucap Faisal.


Ia menyayangkan begitu banyaknya produk makanan dan minuman yang saat ini diimpor dari luar negeri dan memenuhi pasar dalam negeri.


 


“Padahal, hanya bermodal air dan gula, Thailand, Taiwan, Tiongkok bisa ekspor minuman-minuman bercita rasa. Itu karena mereka kuat di industri manufaktur. Mereka bisa mengemas produk dengan baik,” ucapnya.


Dia juga meminta pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berpotensi menghambat kinerja industri manufaktur di Tanah Air. Seperti persoalan garam impor yang sempat mengalami kelangkaan beberapa waktu lalu dan mengakibatkan 23 perusahaan berhenti berproduksi karena kekurangan bahan baku. Hal seperti itu, menurutnya, tidak perlu terjadi jika jajaran pemerintah dapat bersinergi dan serius dalam membangun industri dalam negeri.


Impor bukan tabu


Ia menekankan kebijakan impor bukanlah hal yang tabu dilakukan. Faisal mencontohkan Tiongkok yang ekspornya bisa melonjak tinggi karena mau membuka diri terhadap komoditas yang memang diperlukan untuk kebutuhan industri.


Pada Februari, kata Faisal, impor ‘Negeri Tirai Bambu’ tumbuh 6,3% dari periode yang sama tahun sebelumnya, yang juga diikuti lonjakan ekspor mencapai 44,5%.


“Jadi jangan sedikit-sedikit dilarang impor. Apa-apa tidak boleh impor dengan mengatasnamakan kedaulatan. Tidak seperti itu kalau di industri. Pemerintah harus membuka diri untuk mendapatkan hasil


yang baik,” ujar Faisal.


Dalam laporan indeks manajer pembelian (purchasing manager index/PMI) yang dirilis Nikkei dan Markit, pada awal Maret lalu PMI manufaktur Indonesia naik dari 49,9 pada Januari menjadi 51,4pada Februari 2018.


Meski angkanya tergolong sedang, tingkat ekspansi industri manufaktur itu merupakan yang paling menonjol sejak Juni 2016.


Saat menanggapi hasil survei itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan kenaikan tertinggi selama 20 bulan terakhir itu menunjukkan kepercayaan sektormanufaktur yang terus meningkat.


“Kenaikan PMI itu dapat menunjukkan kepercayaan ke pada sektor industri agar le bih ekspansif dan menyerap banyak tenaga kerja,” kata Airlangga.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM