BERITA INDUSTRI

IKM Jatim Diajak Gunakan Fasilitas


Sumber : Bisnis Indonesia (01/03/2018)


SURABAYA - Kementerian Perindustrian menargetkan sebanyak 400 industri kecil dan menengah atau IKM memanfaatkan fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor atau KITE pada tahun ini.


Direktur Jenderal IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan pemanfaatan fasilitas KITE hingga saat ini masih sangat rendah yakni hanya ada 44 IKM, padahal jumlah IKM di Indonesia mencapai 4,7 juta IKM.


"Jadi agar pelaku IKM yang berorientasi ekspor bisa memanfaatkan KITE, kami gencarkan sosialisasi di sejumlah kota di Indonesia, termasuk di Surabaya seperti sekarang ini," ujarnya melalui penjelasan resmi, Selasa (27/2).


Dia mengatakan rendahnya pemanfaatan KITE dikarenakan ketidaktahuan para pengusaha. Padahal dengan memanfaatkan KITE bisa memangkas biaya produksi hingga 30% karena tidak dikenai pajak.


"Fasilitas KITE ini memang bertujuan untuk menurunkan biaya produksi, dan meningkatkan pendapatan IKM dan produktivitas serta daya saing," ujarnya.


Adapun sejauh ini industri yang telah memanfaatkan fasilitas KITE tersebut bergerak di bidang kerajinan, furnitur, pakaian jadi dan industri kosmetik.


Jawa Timur sendiri pada 2016 tercatat jumlah IKM nya ada 851.319 unit dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak lebih dari 2 juta orang.


Direktur Eksekutif Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, Sinthya Roesly menambahkan, LPEI berupaya mendukung IKM yang berorientasi ekspor melalui fasilitas pembiayaan.


"Sejak 2015 sampai sekarang kita sudah membiayai dan mendampingi 330 UKM ekspor dari berbagai kota di Indonesia. Tahun ini kita akan optimalkan pemanfaatan layanan e-commerce seiring dengan berkembangnya teknologi," ujarnya.


Di Malang, Pemkot Malang mendorong IKM di kota tersebut memanfaarkan fasilitas KITE.


Kepala Dinas Perindustrian Kota Malang Subkhan mengungkapkan jumlah IKM yang memanfaatkan fasilitas KITE untuk ekspor langsung ke negara tujuan masih kecil karena belum banyak pelaku industri yang mengetahui adanya fasilitas itu.


"Belum banyak IKM yang tahu program ini dan sosialisasi juga belum menjangkau kepada seluruh IKM di kota ini," katanya di Malang, Rabu (29/2).


Sebagai bentuk tanggung jawab, kata dia, maka Dinas Perindustrian (Disperin) Kota Malang secara pelan-pelan mencoba mencoba untuk terus mendorong IKM untuk ikut program ini, karena program ini sangat bagus dalam pengembangan IKM. Sosialisasi akan dilakukan secara kolektif, juga secara individu, langsung ke pengusaha.


Disperin juga melakukan pendataan yang cermat terlebih dulu, sehingga sosialisasi terkait fasilitas IKM betul-betul tepat sasaran.


Dengan tidak banyaknya IKM yang memanfaatkan fasilitas KITE, maka selama ini mereka masih mengekspor melalui pihak ketiga, atau trader sehingga keuntungan yang mereka dapat otomatis berkurang. Ini karena harga jual menjadi lebih rendah daripada harga yang dibayar pengimpor sebagai akibat dipotong oleh trader.


Padahal, kata dia, dari pembicaraan dirinya dengan pelaku IKM, sebenarnya ada beberapa yang sudah melakukan ekspor, namun tidak secara langsung, melainkan lewat trader.


Produk-produk IKM asal Kota Malang yang berpotensi ekspor, yakni rotan, keramik, produk kerajinan, dan aneka produk fashion. (k24/Peni Widarti)



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM