BERITA INDUSTRI

Upaya Melepas Predikat Si Jago Kandang


Sumber : Bisnis Indonesia (26/02/2018)


Sudah menjadi rahasia umum industri otomotif Indonesia dapat dikatakan jago kandang. Tidak banyak pemain yang berhasil menembus pasar global dengan produk rakitan Tanah Air.


Mengintip data 5 tahun terakhir, pemain ekspor bukan bertambah, tetapi malah berkurang. Pada 2013 ada 8 APM yang mengapalkan mobil ke negara lain, sedangkan tahun lalu, hanya 5 pemain. Kendati demikian, pemain yang tersisa terbilang progresif.


Dalam 5 tahun terakhir, volume ekspor menampilkan tren positif. Dari catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), hanya sempat anjlok pada 2016 sebanyak 6,4%. Secara rata-rata pengiriman mobil utuh ke negara lain tumbuh sekitar 8%.


Namun di balik itu semua, data teranyar Gaikindo memperlihatkan bahwa kontribusi ekspor kendaraan utuh atau completely built up (CBU) masih kurang dari 20% total produksi dalam negeri. Kementerian Perindustrian berkeinginan produk yang dilepas ke pasar global mencapai persentase tersebut.


Dari data yang dimiliki Kementerian Perindustrian, kapasitas produksi bukan menjadi masalah. Indonesia memiliki pabrik perakitan yang bisa melahirkan 2,25 juta unit mobil per tahun.


Sejak 2012-2017 sejumlah merek otomotif melakukan penambahan investasi perakitan secara signifikan, atau lebih dari 70% kapasitas terpasang dibandingkan dengan 6 tahun lalu.


Pun selain itu, ekspor mobil rakitan Indonesia ternyata lebih banyak mengincar negara berkembang. Ekspor mobil ke negara maju seperti kawasan Eropa dan Amerika Utara belum terlihat. Singapura dan Jepang memang sudah terisi, tetapi tidak banyak.


Mayoritas mobil-mobil produksi dan rakitan Indonesia lebih banyak dikirim ke kawasan Asia Tenggara, Amerika Selatan, Timur Tengah, hingga negara-negara di Afrika. Wajar saja, sebab negara berkembang tidak membutuhkan spesifikasi yang tinggi seperti negara-negara maju. Standar fitur keselamatan dan emisi gas buang jauh berbeda.


NEGARA MAJU


Indonesia juga belum merampungkan adaptasi standar internasional untuk bisa menembus pasar negara maju, yakni United Nations Economic Commission for Europe (UNECE).


Ketentuan ini berlaku di banyak negara maju dan tentu saja menjadi hambatan tersendiri bagi merek otomotif yang memproduksi kendaraan di Indonesia.


Pada tahun lalu pemerintah sudah memutuskan akan mengadopsi UNECE sebagai rujukan penyusunan standarisasi nasional Indonesia (SNI) untuk sejumlah komponen kendaraan bermotor.


Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, standar yang berlaku secara internasional itu diterapkan dalam implementasi SNI sejumlah perlengkapan kendaraan bermotor seperti pelek, kaca mobil, dan ban. "UNECE itu sebagai rujukan saja, ada juga standar lain yakni JIS [Japan International Standard] yang juga kami jadikan rujukan," katanya kepada Bisnis medio 2017.


Namun hingga tahun ini proses tersebut belum juga rampung. "Masih belum," kata Vice President Corporate Communication BMW Group Indonesia Jodie Otania.


Sebagai pabrikan asal Eropa, bisnis BMW di Indonesia akan dimudahkan dengan kebijakan tersebut. Pasalnya, selama ini komponen atau suku cadang kendaraan pabrikan Eropa yang didatangkan ke dalam negeri sering tidak lolos karena memiliki standar kualitas yang melebihi batas tertinggi dari penilaian standardisasi nasional.


Di luar itu semua, ekspor kendaraan bermotor memang bukan perkara mudah. Kalkulasi bisnis, kerja sama antar negara, dan juga pembagian wilayah dari prinsipal ikut banyak menentukan.


Belum lagi kebanyakan investasi besar di Indonesia untuk memproduksi kendaraan penumpang sebaguna (MPV). Model ini memang menjadi raja di Tanah Air, tetapi popularitasnya secara global dipertanyakan.


Jato Dynamics, lembaga riset otomotif di Inggris, pada awal tahun lalu merilis data penjualan 2016. Hatcback menguasai 41,45% pasar di kawasan Eropa. Kemudian diikuti oleh sport utility vehicle (SUV) 25,66% dan sedan 12,38%. MPV berada di posisi keempat menyumbang 9,5%.


Lembaga itu juga melihat tren penjulan MPV menyusut 9,5% sepanjang 2016 dibandingkan dengan 2015. Sementara itu SUV naik 21,4%, sedan cenderung stagnan, dan hatchback naik 2,7%.


Pada akhirnya melepas titel jago kandang dan negara berkembang memang butuh banyak campur tangan berbagai pihak. Pemerintah perlu melakukan perombakan aturan yang ada. Selain itu memberikan stimulus positif kepada industri komponen juga tidak kalah penting.


"Pemerintah harus berani menyesuaikan peraturan yang ada," kata Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM