BERITA INDUSTRI

Pemerintah Diminta Bentengi Pasar


Sumber : Bisnis Indonesia (09/02/2018)


JAKARTA - Pabrikan panel surya lokal meminta pemerintah membentengi industri dalam negeri dari produk China yang masuk ke pasar dengan harga jual yang jauh lebih rendah.


Nick Nurrachman, Ketua Umum Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (Apamsi), mengatakan salah satu cara yang dapat dilakukan adalah pengenaan bea masuk anti dumping untuk produk China.


Saat ini, tingkat utilitas pabrikan panel surya domestik sangat rendah, yaitu hanya sebesar 3% dari kapasitas terpasang sebesar 500 megawatt per tahun.


"Pasar di dalam negeri kalah dengan produk China karena mereka melakukan unfair trade sehingga harganya bisa lebih murah dan volume impor juga lebih besar," ujar Nick, Kamis (8/2).


Dari sisi kualitas, Nick menyebutkan produk dalam negeri tidak kalah dengan produk negara lain. Beberapa anggota Apamsi sudah mendapatkan sertifikat standar dari International Electrotechnical Commission (IEC) dan telah mengekspor produk ke beberapa negara, seperti ke negara-negara Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.


Peluang ekspor panel surya nasional saat ini terbuka untuk negara yang menerapkan bea masuk anti dumping terhadap produk asal China. "Kalau produk China dikenakan bea masuk, kami bisa bersaing karena levelnya sama," jelasnya.


Lebih jauh, Nick juga mengapresiasi pembebasan bea masuk produk panel surya Indonesia ke Amerika Serikat.


Menurutnya, hal ini memberikan peluang lebih besar untuk ekspor ke Negara Paman Sam tersebut dan menjadi angin segar bagi produsen dalam negeri yang sedang lesu darah karena iklim investasi energi surya dalam negeri sedang tidak menarik.


"Tindakan Komisi Perdagangan Internasional Amerika Serikat (USITC) ini menyusul sanksi yang sama oleh Uni Eropa dan India terhadap produk panel surya asal China dengan menerapkan bea masuk yang tinggi akibat dumping. Ini patut segera diikuti oleh KADI untuk melindungi industri panel surya dalam negeri," kata Nick.


Pada kesempatan terpisah, Ngakan Timur Antara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) sekaligus Ketua Umum Konsorsium Kemandirian Industri Fotovoltaik Nasional (KKIFN), mengatakan pertumbuhan pasar lokal juga terhambat karena regulasi feed-in tariff belum dianggap menguntungkan oleh pengembang.


"Potensi pasar di dalam negeri masih sangat tinggi karena banyak saudara kita di remote area yang belum mendapatkan listrik," ujar Ngakan.


Sebelumnya, seperti dikutip dari Antara, Pemerintah AS telah membebaskan Indonesia dari pengenaan bea masuk tindakan pengamanan perdagangan terhadap impor produk panel surya.


Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan keputusan tersebut diambil karena produk panel surya asal Indonesia terbukti tidak menyebabkan lonjakan impor produk sejenis di Amerika Serikat.


Menurut Oke, pangsa pasar produk panel surya Indonesia di Amerika Serikat masih di bawah 3%. Pada perjanjian tindakan pengamanan perdagangan WTO yang berlaku di article sembilan menyatakan bahwa negara-negara berkembang dengan pangsa pasar impor di bawah 3% secara individu atau di bawah 9% secara kolektif harus dikecualikan dari tindakan tersebut. (Annisa Sulistyo Rini/Ratna Ariyanti)



Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018