BERITA INDUSTRI

Pertumbuhan Industri Menjanjikan


Sumber : Republika (08/02/2018)


Sektor industri masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dengan capaian 20,16 persen pada 2017. Pertumbuhan industri pengolahan non-migas tercatat 5,14 persen pada kuartal IV 2017 atau lebih tinggi dibandingkan periode sama 2016 yang mencapai sekitar 3,91 persen.


Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, kontribusi industri terhadap perekonomian bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian yang menyumbang 13,14 persen, perdagangan (13,01 persen), konstruksi (10,38 persen), dan pertambangan (7,57 persen). "Kami akan terus terus mendorong investasi dan ekspansi industri manufaktur agar semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional," kata Airlangga di Jakarta, Rabu (7/2).


Airlangga menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor industri yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada kuartal IV 2017 adalah industri makanan dan minuman sebesar 13,76 persen. Kemudian, industri mesin dan perlengkapan tumbuh 9,51 persen, industri logam dasar 7,05 persen, serta industri tekstil dan pakaian jadi 6,39 persen. Capaian-capaian ini, menurut dia, berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,07 persen sepanjang 2017.


Kemenperin, kata Airlangga, sedang fokus memacu kinerja industri padat karya berorientasi eskpor, seperti sektor tekstil dan alas kaki. "Kita punya daya saing tinggi dalam produk-produk ini," katanya.


Dia menambahkan, industri pengolahan merupakan sektor andalan dalam menyumbang nilai ekspor Indonesia. Pada 2017, nilai ekspor industri pengolahan sebesar 125 miliar dolar AS. Angka tersebut memberikan kontribusi tertinggi hingga 76 persen dari total nilai ekspor Indonesia yang mencapai 168,73 miliar dolas AS.


Airlangga berharap nilai ekspor industri tahun ini bisa memenuhi target sebesar 135 miliar dolar AS atau naik sekitar delapan persen dibandingkan 2017. "Kami proyeksikan bisa mencapai 143,22 miliar dolar AS pada 2019," ungkap Airlangga.


Ketua Komite Tetap Industri Logam, Mesin dan Alat Transportasi Kadin, I Made Dana Tangkas mengatakan, industri logam belum bisa berkembang pesat karena ketergantungan impor bahan baku dan biaya produksi yang masih mahal. Industri logamyang sangat bergantung pada gas alam tertahan pertumbuhannya karena harga yang mahal.


Selain itu, kata Made, beberapa komponen bahan baku di Indonesia masih bergantung pada Krakatau Steel. Sedangkan untukbisa memenuhi kebutuhan, pasokan dari Krakatau Steel saja tidak cukup. "Biaya produksi industri logam dasar mengalami kendala berupa harga gas alam yang tinggi," katanya.


Dia menjelaskan, harga gas alam di Indonesia 9,5 dolar per MMBTU. Harga tersebut lebih mahal dibandingkan di Jepang dan Rusia yang hanya 6,3 dolar per MMBTU. "Begitu pula bila dibandinglan dengan negara-negara di ASEAN," ujar Made di gedung Kadin, Rabu (7/2).                  •


• ed: satria kartika yudha



Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018