BERITA INDUSTRI

Lima Komoditas Dominasi Ekspor Industri Pengolahan


Sumber : Koran Tempo (08/02/2018)


JAKARTA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan lima komoditas yang mendominasi ekspor industri pengolahan sepanjang 2017. Salah satunya, minyak kelapa sawit (CPO) yang berkontribusi terhadap ekspor industri makanan senilai Rp 272 triliun. Sedangkan produk pakaian jadi menyumbang Rp 90 triliun.


Selanjutnya, produk industri karet, barang karet, dan barang dari karet, serta plastik berkontribusi terhadap ekspor sebesar Rp 66 triliun. Selain itu, produk industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia Rp 59 triliun. Serta produk industri logam yang berperan sebanyak Rp 51 triliun. "Negara tujuan ekspor utama kita antara lain Cina, Amerika Serikat, Jepang, India, dan Singapura," kata Airlangga dalam keterangan pers, kemarin.


Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance, Andry Satrio Nugroho, mengatakan industri pengolahan merupakan sektor penyumbang terbesar produk domestik bruto Indonesia. Porsi sektor ini mencapai 20,16 persen pada 2017. Ia membandingkan dengan komoditas mentah yang berlimpah di Indonesia, yang hanya berkontribusi 13,14 persen.


Namun, kata Andry, pertumbuhan sektor penyokong PDB ini justru stagnan di angka 4,27 persen. "Malah sektor informasi dan komunikasi tumbuh 9,81 persen, padahal cuma berkontribusi 3,8 persen," tutur dia.


Airlangga menambahkan, investasi sektor manufaktur Indonesia pada 2016 (yoy) tercatat mengalami pertumbuhan paling tinggi, yakni sebesar 41,8 persen; disusul Malaysia sebesar 25,0 persen; dan Vietnam 3,1 persen. Sebaliknya, terjadi penurunan investasi di Singapura dan Thailand, masing-masing turun 29,6 persen dan 27,5 persen.


Kementerian Perindustrian mencatat nilai investasi (dalam bentuk penanaman modal asing ataupun penanaman modal dalam negeri) sektor industri terus meningkat. Diperkirakan, investasi yang mencapai Rp 283,71 triliun pada 2017 akan melonjak menjadi Rp 387,57 triliun pada 2019. Adapun nilai investasi pada 2018 ditargetkan bisa menembus Rp 352,16 triliun.


Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai perdagangan internasional akan semakin membuahkan hasil jika diikuti dengan perkembangan inovasi produk industri manufaktur yang lebih beragam. Begitu suatu pasar sudah bagus, mencari pasar baru yang potensial juga perlu dilakukan berkesinambungan. "Kombinasikan kualitas sumber daya manusia dan teknologi," ujarnya. ANDI IBNU | FAJAR FEBRIANTO



Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018