BERITA INDUSTRI

Sektor Manufaktur Masih Memikat


Sumber : Bisnis Indonesia (07/02/2018)


JAKARTA — Sektor manufaktur masih memiliki daya tarik bagi para investor asing untuk memperluas produksi dan pasar ke Indonesia.


Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian, mengatakan pihaknya terus menerima kunjungan perwakilan berbagai negara yang menyatakan minat untuk menanamkan modal di Indonesia.


Pada Selasa (6/2) misalnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menerima perwakilan dari Uni Emirat Arab. Dalam


pembicaraan, para investor menyatakan minat untuk berinvestasi di beberapa sektor, seperti petrokimia dan  oleochemical, serta produksi LED.


Sigit menuturkan para pebisnis masih ingin mempelajari potensi Indonesia sehingga belum memutuskan berapa nilai investasi yang akan ditanamkan.


Sebelumnya, para perwakilan UEA ini telah mendatangi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral karena ingin berinvestasi juga di sektor minyak dan gas. Beberapa teknologi yang diperkenalkan oleh perwakilan UEA disebutkan akan bermanfaat untuk kontraktor migas.


Menteri Perindustrian Airlangga mengatakan selain didukung dengan potensi pasar yang besar, Indonesia juga telah memiliki beberapa struktur industri yang dalam sehingga rantai pasok bisa berjalan baik.


“Apalagi pemerintah telah menerbitkan paket kebijakan ekonomi untuk mempermudah pelaku industri menjalankan usahanya di Tanah Air,” katanya.


Airlangga menambahkan para investor Jepang misalnya mengaku puas berinvestasi dan tertarik untuk melakukan ekspansi di Indonesia. Berdasarkan testimoni, Indonesia tetap menjadi negara tujuan investasi karena memberikan hasil


hingga 60%.


Salah satu program pemerintah Indonesia yang saat ini dinilai menjadi daya tarik bagi para investor adalah pengembangan kompetensi sumber daya manusia industri melalui program pendidikan dan pelatihan vokasi.


“Karena kunci pertumbuhan industri adalah investasi, teknologi, dan SDM. Untuk itu, Kemenperin sedang gencar membangun sistem link and match antara sekolah menengah kejuruan dengan industri,” ujarnya.


BAHAN BAKU


Sementara itu, Adhi S. Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), mengatakan di sektor makanan dan minuman banyak investor asing yang berminat. Namun, pebisnis kadang mengubah rencana jika terdapat regulasi yang dinilai kurang kondusif.


"Misal soal tenaga kerja dan ketersediaan bahan baku, mereka sangat concern. Walaupun tidak ada sanksi, perusahaan multinasional harus comply terhadap aturan dan ini jadi hambatan," jelasnya.


Adhi juga menyatakan masalah kebijakan ini yang membuat realisasi penanaman modal asing, terutama di sektor makanan dan minuman, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi penanaman modal dalam negeri, kendati minat investor asing besar untuk berusaha di Indonesia.


Berdasarkan data yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sepanjang tahun lalu realisasi investasi di sektor manufaktur tercatat mencapai Rp274,7 triliun.


Dari nilai tersebut, penanaman modal asing (PMA) menyumbang Rp175,5 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp99,2 triliun.


Apabila dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya, realisasi investasi di sektor manufaktur, baik PMDN maupun PMA menunjukkan penurunan.


Pada 2016, relasasi investasi industri pengolahan tercatat senilai Rp335,8 triliun yang terdiri dari PMDN senilai Rp106,8 triliun dan PMA senilai Rp229 triliun.



Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018