BERITA INDUSTRI

72 Perusahaan Jadi Objek Vital Industri


Sumber : Koran Sindo (07/02/2018)


JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menetapkan 72 perusahaan manufaktur dan 19 kawasan industri sebagai objek vital nasional sektor industri (OVNI).


Upaya strategis pemerintah ini dalam menciptakan iklim bisnis yang kondusif sehingga para investor merasa aman dan nyaman berusaha di Indonesia. Kebijakan itu diharapkan bisa meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional.


"Kenyamanan dan rasa aman merupakan salah satu kunci dan syarat keberhasilan suatu negara dalam membangun ekonomi," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara melalui keterangannya di Jakarta, kemarin.


Kemenperin mencatat, hingga 2016 terdapat 64 objek perusahaan industri dan 15 objek kawasan industri yang telah berstatus sebagai OVNI. Sedangkan pada 2017 telah ditetapkan delapan perusahaan industri dan empat kawasan industri sebagai OVNI.


Penetapan OVNI berdasarkan amanat Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 2004 tentang Pengamanan Objek Vital Nasional. Kebijakan itu semakin dipertegas lagi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2017 tentang Pembangunan Sarana dan Prasarana Industri.


Dengan semakin terjaganya tingkat keamanan dan kenyamanan berusaha di Indonesia, Ngakan menilai, investasi di sektor industri pengolahan nonmigas terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.


"Juga didukung dari faktor lainnya, seperti pembangunan infrastruktur, kebijakan fiskal, serta penyediaan energi dan bahan baku yang berkontribusi penting dalam pertumbuhan industri," ujarnya.


Merujuk data Kemenperin, nilai total investasi (PMA dan PMDN) sektor industri diproyeksikah terus mengalami peningkatan. Jika pada 2017 mencapai sekitar Rp283,71 triliun, maka pada 2018 mendatang diharapkan mencapai Rp352,16 triliun. Sementara investasi pada 2019 ditargetkan bisa tembus Rp387,57triliun.


Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang mengalami kenaikan sebesar 4,74% tahun 2017 dibandingkan tahun 2016. Lonjakan ini terutama disebabkan meningkatnya produksi industri makanan sebesar 9,93%.


Kemudian pertumbuhan


produksi industri manufaktur skala mikro dan kecil pada 2017 juga ikut menanjak sebesar 4,74% daripada tahun 2016. Kenaikan ini terutama disebabkan meningkatnya produksi komputer, barang elektronik, dan optik sebesar 35,25%.


Menurut Ngakan, peningkatan pengamanan bagi kegiatan usaha di dalam negeri juga akan berdampak penting terkait penilaian dunia terhadap posisi Indonesia.


Dalam salah satu subindeks pada pilar institusi dari penilaian Global Competitiveness Index oleh World Economic Forum, Indonesia mengalami peningkatan aspek Business cost of terorism dari peringkat 115 tahun 2016 menjadi posisi 112 pada 2017.


Selanjutnya perbaikan juga terjadi pada aspek Business cost of crime and violence dari peringkat 102 tahun 2016 menjadi posisi 88 pada 2017. "Perbaikan aspek-aspek tersebut setidaknya mampu mendorong perbaikan posisi daya saing Indonesia," katanya.


Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi bagi para pelaku industri luar negeri yang ingin menanamkan modalnya untuk perluasan usaha atau ekspansi.


oktiani endarwati



Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018