BERITA INDUSTRI

Industri Mamin Kejar Omzet Rp 1.714 Triliun


Sumber : Investor Daily (31/01/2018)


JAKARTA – Industri makanan dan minuman (mamin) olahan nasional mengejar pertumbuhan omzet 10%menjadi Rp 1.714 triliun tahun ini, dibandingkan 2016 sebesar Rp 1.560 triliun. Dari jumlah itu, sebanyak Rp 1.550 triliun merupakan omzet domestik sedangkan Rp 164 triliun atau US$ 12,65 miliar omzet ekspor.


Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, optimisme pertumbuhan mamin tahun ini didasari gelaran pilkada serentak di 171 wilayah Indonesia. Biasanya, peredaran uang meningkat ketika tahun politik.


“Tahun politik diharapkan dapat pula mendongkrak konsumi mamin olahan,” kata Adhi di Jakarta, Selasa (30/1).


Meski demikian, dia menuturkan, tahun ini, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi industri mamin. Catatan Gappmi, saat ini, terdapat 16 regulasi yang kontraproduktif terhadap industri mamin.


Perinciannya, Permendag 125/2015 dan Permen KKP 66/2017 tentang Pengaturan Impor Garam, Garam lndustri Aneka Pangan sebagai Bahan Baku, lalu Permentan 26/2017 dan Rancangan Permentan Pemasukan dan Pengeluaran Produk Asal Hewan Ke Dalam dan dari Wilayah Negara Republik Indonesia, yang mencakup pengaturan importasi susu, kewajiban kemitraan, pengaturan harga susu, serta bukti serap.


Selanjutnya, perubahan atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhanan yang menambah wewenang Badan Karantina di postborder. Ada pula Permendag 16/2017 tentang Perdagangan GKR hanya melalui lelang yang kemudian diubah menjadi Permendag 73/2017.


Adhi menegaskan, industri mamin juga khawatir dengan rencana penerapan bea masuk anti dumping (BMAD) polyethylene terephthalate (PET), yang tengah menunggu keputusan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI). PET adalah bahan baku kemasan mamin.


“Industri mamin membutuhkan kebijakan hulu hingga hilir yang terkoordinasi,” kata dia.


Tidak hanya itu, dia menuturkan, masih ada RUU Sumber Daya Air yang mengancam kepastian berusaha, perlindungan sumber air, serta Permen PUPR 1/2016 tentang Perizinan dan Penggunaan Sumber Daya Air. Kemudian, RPP Jaminan Produk Halal, RPP Pengenaan Cukai Atas Plastik Kemasan Produk, Wacana Pengenaan Cukai Minuman Berpemanis dan Soda.


Dia menambahkan, RUU Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang berniat menjadikan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai lembaga superbodi dan meningkatkan sanksi pelanggaran turut menjadi ancaman.


Belum lagi RPP Label dan Iklan Pangan yang bisa menimbulkan multitafsir di definisi Ada juga, kata dia, Permendag 29/ 2017 tentang Pelaporan Setiap Pengiriman Menyeberangi Sungai/Selat/Laut, Permendag 22/2016 tentang Keharuskan Distribusi melalui distributor, dan PER DJP No. 16/ PJ/ 2014 tentang Pencantuman NIK untuk Pembeli Bila Tidak Memiliki NPWP.


Sektor Strategis


Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, kontribusi industri mamin terhadap industri secara keseluruhan sangat besar. Itu artinya, sedikit saja gangguan terjadi gangguan di industri mamin, akan memengaruhi profil industri secara keseluruhan.


“Berikutnya, kondisi ekonomi secara nasional juga bakal terimbas, jika industri mamin terguncang,” kata Panggah.


Berdasarkan catatan Kemenperin, laju industri mamin kuartal III-2017 mencapai 9,46%, di atas pertumbuhan ekonomi nasional 5,06 persen. “Jadi, rata-rata pertumbuhan mamin selama kuartal I-III 2017 sekitar 8,24%,” ujar Panggah.


Menurut dia, kuartal III-2017, industri mamin berkontribusi 34,95% terhadap PDBmanufaktur atau tertinggi dibandingkan capaian subsektor lainnya. Kemudian, sumbangan besar lainnya terlihat pada nilai ekspor mamin 2017 sebesar US$ 31,8 miliar, termasuk minyak kelapa sawit. Di luar minyak kelapa sawit, ekspor mencapai US$ 11,5 miliar.


“Sehingga, neraca perdagangan mamin mengalami surplus sekitar US$ 9,88 miliar,” tutur Panggah.


Bahkan, kontribusi penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur didominasi oleh industri mamin, yakni sebanyak 3,3 juta orang atau sebesar 21,34%.


Sementara itu, Januari-September 2017, nilai investasi industri mamin mencapai Rp 27,9 triliun untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) sebesar US$ 1,4 miliar.


“Untuk itu, mutlak dilakukan sinergi program dan kegiatan antara pemerintah dan stakeholder dalam pengembangan industri mamin nasional, mulai dari sektor primer sebagai penyedia bahan baku, hingga sektor industri pengolahan dan sektor moneter,” papar Panggah.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM