BERITA INDUSTRI

Penjualan Lahan Industri 2018 Diprediksi Rp 5 Triliun


Sumber : Investor Daily (30/01/2018)

JAKARTA – Himpunan Kawasan Industri (HKI) menargetkan penjualan lahan industri di kawasan Jabodetabek mencapai 250 hektare (ha) atau setara dengan Rp 2,5-5 triliun pada 2018, dengan asumsi harga lahan Rp 1-2 juta per meter persegi (m2). Jumlah ini sama seperti 2017.

“Kami berharap penjualan jangan lebih rendah dari 2017, sebesar 250 ha. Jadi, paling tidak kita berusaha menyamai hasil itu. Data yang saya terima terakhir, penjualan 2017 sekitar 200-an ha, tapi ada beberapa yang belummasuk,” kata Ketua HKI Sanny Iskandar di Jakarta, Senin (29/1).

Sanny mengatakan, ada korelasi investasi di industri manufaktur serta kondisi perekonomian dan pembelian lahan industri. Kebanyakan investor berinvestasi pembelian lahan untuk jangka panjang, bukan membeli lahan langsung bangun. Ini dilakukan oleh industri otomotif yang membutuhkan lahan luas, sebagai antisipasi jika ingin berekspansi.

 “Jadi, mereka investasi untuk jangka panjang, sekalipun mungkin yang dibangun pabriknya enggak sebesar total luas lahan yang dibeli,” ujar dia. Tahun ini, dia menuturkan, harga lahan di kawasan industri (KI) Jabodetabek masih cukup stabil, berbeda dengan harga lahan perumahan yang cenderung meningkat setiap tahun.

Harga lahan industri lebih bergantung pada situasi dan kondisi permintaan. Pada 2017, diamencatat, permintaan lahan industri didominasi oleh industri makanan minuman (mamin), farmasi, otomotif, dan elektronik, terutama di Jawa. Sementara itu, tahun ini, komposisinya diproyeksikan tidak jauh berbeda, meski akan lebih didominasi oleh industri mamin dan farmasi.

Dia menilai, bergulir nya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) membuat kebutuhan obat terus meningkat, sehingga sektor farmasi menggeliat. Adapun mamin termasuk barang konsumsi, yang permintaannya tetap tinggi. Ini mendorong perusahaan sektor tersebut berekspansi. “Industri mamin masih tetap menjadi daya tarik investasi indonesia,” jelas Sanny.

Pada tahun politik 2018, dia memprediksi, investasi di bidang usaha tertentu meningkat signifikan, seperti garmen dan mamin. Apalagi, selama tiga tahun terakhir setelah keluar Perpres 78 tahun 2015 tentang Pengupahan, kondisi perburuhan relatif lebih aman. Selain itu, dia menegaskan, investor cenderung bergeser dari Jawa ke luar Jawa untukmendekati bahan baku.

Sebelumnya, komposisi industri di Jawa mencapai 76% dan sisanya di luar Jawa. Sementara itu, data terakhir menunjukkan, saat ini porsi industri di Jawa berkisar 60% dan 40% berada di luar Jawa. Diharapkan nantinya komposisi sebaran industri bisa mencapai 50:50.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto sebelumnya menyatakan, prospek pengembangan KI di Indonesia masih menjanjikan, seiring terus meningkatnya permintaan lahan industri. Untuk itu, KI harus saling terkoneksi dan terintegrasi. “Maka, pengelola kawasan industri harus bersinergi dengan pemerintah daerah setempat dalam menyelesaikan berbagai permahan yang muncul,” jelas dia.

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM