BERITA INDUSTRI

Tahun Politik Bukan Halangan


Sumber : Bisnis Indonesia (30/01/2018)

JAKARTA — Himpunan Kawasan Industri berharap penjualan lahan kawasan industri tahun ini, terutama di wilayah Jabodetabek, tidak menurun dibandingkan dengan realisasi pada tahun lalu. Tahun politik justru dipandang sebagai pendorong perluasan bisnis para investor pada 2018.

Sanny Iskandar, Ketua Umum HKI, mengatakan realisasi penjualan lahan kawasan industri Jabodetabek tahun lalu berada di kisaran 250 hektare, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya seluas 180 hektare.

“Kami berusaha paling tidak sama dengan capaian pada 2017. Saya harap tahun ini ada peningkatan kegiatan ke jenis-jenis usaha tertentu berbarengan dengan pilkada, seperti ke industri tekstil, percetakan, dan makanan dan minuman,” ujarnya, Senin (29/1).

Menurut Sanny, walaupun tahun ini merupakan tahun politik, iklim usaha relatif aman. Kondisi ini dinilainya mulai terlihat sejak 3 tahun lalu atau sejak penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 78/2015 tentang Pengupahan.

Kendati demikian, pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini berharap pemerintah dapat memberikan jaminan keamanan bagi para pengusaha. Dengan demikian masalah politik terkait pilkada tahun ini dan pilpres tahun depan tidak sampai memberikan dampak negatif ke sektor industri.

Selain keamanan, para pengusaha juga berharap pemerintah lebih menggiatkan pembangunan infrastruktur yang menghubungkan antar daerah, sehingga jangkauan distribusi bahan baku atau produk jadi bisa lebih cepat. “Ini semua berimbas ke peningkatan daya saing karena efisiensi meningkat,” jelasnya.

Terkait dengan peningkatan realisasi penjualan kawasan industri pada tahun lalu, Sanny menyebutkan sektor industri makanan dan minuman, farmasi, otomotif, dan elektronik masih mendominasi.  Para investor di sektor tersebut banyak membeli lahan besar sebagai investasi jangka panjang, terutama industri otomotif.

Pada tahun lalu, harga tanah di kawasan industri sekitar Jabodetabek disebut tidak mengalami perubahan, yaitu di kisaran Rp1 juta hingga Rp2 juta per meter persegi. Untuk tahun ini, Sanny melihat tidak akan ada peningkatan harga lahan kawasan industri.

“Harga lahan di kawasan industri ini berbeda dengan perumahan yang cenderung meningkat tiap tahun. Tanah di kawasan industri dipengaruhi permintaan,” katanya.

LUAR JAWA

Sanny juga menyebutkan saat ini luas pembangunan di kawasan industri luar Jawa mulai meningkat. “Kalau dulu kurang lebih 76% di Jawa dan sisanya di luar Jawa, sekarang 60% di Jawa dan 40% di luar Jawa. Ke depan paling tidak 50%:50%,” katanya.

Kementerian Perindustrian telah menargetkan investasi yang bisa ditarik dari 13 kawasan industri akan mencapai Rp250,7 triliun pada tahun ini. Ke-13 kawasan industri tersebut, yaitu KI Morowali, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, KI Bantaeng, KI JIIPE Gresik, KI Kendal, dan KI Wilmar Serang, KI Dumai, KI Konawe, KI/KEK Palu, KI/KEK Bitung, KI Ketapang, KI/KEK Lhokseumawe, dan KI Tanjung Buton.

“Pemerintah telah memberikan kemudahan berinvestasi di dalam kawasan industri, antara lain melalui pemberian insentif fi skal dan nonfi skal serta pembentukan satgas untuk penyediaan gas, listrik, air, SDM, lahan, tata ruang, dan lain-lain,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Sementara itu, investasi di industri secara keseluruhan sektor manufaktur pada tahun ini ditargetkan senilai Rp352 triliun. “Dengan adanya investasi di sektor industri, tercipta lapangan kerja baru dan multiplier effect seperti peningkatan nilai tambah dan penerimaan devisa dari ekspor. Oleh karenanya, industri menjadi penunjang utama dari target pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Kementerian Agraria dan Tata Ruang Badan Pertanahan Nasional pun mengimbau investor untuk bisa berinvestasi di kawasan industri karena memiliki jaminan atas status lahan.

Sebelumnya, Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto mengatakan penjualan lahan industri sepanjang 2017 sedikit lebih baik dibandingkan dengan kinerja 2016.

Tahun ini Ferry melihat hanya kawasan industri yang memiliki ketersediaan lahan secara signifi kan di atas 10 ha yang lebih berpotensi menarik penyewa utama yang masih baru. Pasalnya secara umum permintaan tahun ini diprediksikan tidak akan terlalu banyak dan jika dicermati penyerapan lahan industri hanya di sekitar lokasi yang sama.

Adapun bagi kawasan industri yang penjualannya sudah besar, ketersediaan pasokan lahan juga tidak banyak lagi, kecuali untuk lahan dengan akses jalannya yang tidak sebagus yang sudah jadi. Dengan demikian, distribusi lahan memang tidak merata.

“Misalnya Bekasi kalau lahan di atas 10 ha paling adanya Delta Mas. Yang lainnya hanya ada sisa sedikit lahan, kalau untuk ekspansi perusahaan skala besar sulit,” imbuhnya.

Data Colliers mencatat pertumbuhan penjualan lahan terbesar secara tahunan masih didominasi pemain dari kawasan Timur Jakarta, yakni anak usaha Sinar Mas Land, Green Land Internasional Industrial Center (GIIC) di kota Deltamas, Cikarang dengan total lebih dari 60 ha. Tapi jika dilihat pada kuartal akhir tahun lalu, pemain di kawasan barat yakni Modern Cikande mencatatkan penjualan tertinggi dengan lebih dari 16 ha.

Ekspansi perusahaan yang mendominasi kawasan industri masih berasal dari sektor makanan dan minuman sebesar 23% disusul otomotif 21%. Perusahaan makanan dan minuman berhasil menggeser perusahan logistik yang selama beberapa tahun belakangan juga cukup mendominasi.

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM