BERITA INDUSTRI

Saatnya Memacu Manufaktur


Sumber : Pikiran Rakyat (29/01/2018)

JAKARTA, (PR).- Ekonomi Indonesia perlu didorong untuk beralih dari berbasis komoditas sumber daya alam menjadi manufaktur. Hal ini dilakukan supaya turut menikmati kinerja pertumbuhan ekonomi global.

"Sekarang kita tidak bisa terlalu menikmati kenaikan pertumbuhan global yang cukup besar, termasuk juga perbaikan ekonomi di Amerika Serikat, karena negara yang bisa menikmati hal tersebut adalah yang ekonominya berbasis manufaktur," kata Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Seperti dikutip dari Kantor Berita Antara, ekonom dari Universitas Indonesia (UI) tersebut menjelaskan bahwa andil dari ekspor ke produk domestik bruto Indonesia sebesar 25%, dan sebagian besar ekspor adalah energi dan komoditas.

Hal tersebut, dinilainya menunjukkan bahwa produk Indonesia tergantung dengan kondisi harga di tingkat global. Ketika harga batu bara dan minyak sawit naik, misalnya, maka ekonomi Indonesia juga ikut naik layaknya yang terjadi pada kurun 2002 hingga 2012. "Namun, begitu harganya kolaps, ekonomi Indonesia juga menurun," ujarnya.

Hal semacam itu pula, menurut dia, yang menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi Singapura pada kuartal III-2O17 bisa tumbuh 5,2% (year-on-year/yoy) dan Malaysia 6,2% (yoy).

Chatib menjelasan, penyebab Indonesia tidak turut menikmati hasil pertumbuhan ekonomi dunia adalah karena basisnya tidak manufaktur, dan sedang menuju ke arah tersebut yang memerlukan waktu.

"Kalau mau dorong lagi pertumbuhan ke sana, maka kita harus lari kepada manufacturing-based. Dan, itu tidak akan mungkin terjadi seketika," katanya.

Untuk mendukung ekonomi yang berbasis manufaktur, dikemukakannya, maka daya beli masyarakat juga perlu diperkuat, dan pemerintah dalam jangka pendek perlu membuat masyarakat berkemampuan berbelanja, termasuk upah tunai program padat karya (cash for work).

"Orang miskin bisa belanja kalau dapat uang, apakah caranya melalui bantuan langsung tunai, program keluarga harapan, atau cash for work. Pokoknya, dia diberi uang. Segala macam program seperti itulah yang menolong," demikian Chatib Basri.

Berperan penting

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengemukakan, industri pengolahan nonmigas berperan penting dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal itu diperlihatkan dengan kontribusi sektor ini mampu memberikan efek berantai seperti peningkatan terhadap nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor. Selain itu, sektor manufaktur dalam negeri menjadi penyumbang terbesar dari pajak dan cukai.

Data Divisi Statistik PBB pada tahun 2016, Indonesia berada pada peringkat keempat dunia dari 15 negara, yang industri manufakturnya memberikan kontribusi di atas 10% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Indonesia mampu menyumbangkan hingga mencapai 22% setelah Korea Selatan (29%), Tiongkok (27%), dan Jerman (23%).

Sementara itu, berdasarkan laporan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Indonesia menduduki peringkat ke-9 di dunia atau naik dari peringkat tahun sebelumnya di posisi ke-10 untuk kategori manufacturing value added. Peringkat ke-9 ini sejajar dengan Brasil dan Inggris, bahkan lebih tinggi dari Rusia, Australia, dan negara ASEAN lainnya.

Menurut Airlangga, kontribusi manufaktur Indonesia mampu menembus 30% apabila dihitung mulai dari proses pra produksi, produksi dan pascaproduksi. "Paradigma industri manufaktur global saat ini, berdasarkan kesepakatan di World Economic Forum, proses produksi sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, kita sudah tidak bisa lagi melihat produksi hanya di pabrik," ujarnya. (Dendi Sundayana)***

Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018