BERITA INDUSTRI

Memajukan Industri Perkeretaapian


Sumber : Republika (29/01/2018)

Pemerintah tak ingin melulu impor dalam membangun proyek infrastruktur, termasuk sektor perkeretaapian. Industri dalam negeri juga dilibatkan pada proyek-proyek yang digarap pemerintah.

Industri kereta api nasional telah tumbuh dan berkembang baik dari sisi kemampuan teknologi ataupun bisnisnya. Maklum, industri alat transportasi telah ditetapkan sebagai salah satu sektor andalan masa depan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN).

Pada periode 2015-2019, pemerintah fokus pada pengembangan kereta api perkotaan, seperti light rail transit (LRT), monorail, dan mass rapid transport (MRT). Sementara, periode 2020-2035 akan difokuskan pada pengembangan kereta listrik dan magnetic levitation (maglev).

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menggunakan produk dalam negeri, pengembangan komponen pendukung, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta pengembangan desain dan permesinan. Selain itu, menciptakan regulasi untuk mendukung iklim usaha yang kondusif.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meminta industri BUMN dan swasta dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, khususnya industri perkeretaapian nasional. "Misalnya saja, proyek LRT Jabodebek yang bisa menjadi kesempatan bagi industri kereta api nasional untuk menunjukkan daya saingnya dalam penguasaan teknologi, termasuk dalam hal riset dan inovasi pengembangan industri berbasis rel," ujarnya di Madiun, Jawa Timur, belum lama ini.

Saat ini, lanjut Airlangga, Kemenperin telah mendorong PT Industri Kereta Indonesia (Persero) atau INKA melakukan kegiatan pembinaan terhadap industri komponen berskala kecil dan menengah.

Sehingga, mampu menghasilkan produk yang mutunya sesuai standar dan bisa digunakan dalam industri perkeretaapian. "Upaya ini diperlukan mengingat pembinaan industri kecil menengah merupakan tanggung jawab kita bersama untuk maju secara bersama," ujarnya.

Menurut Airlangga, INKA memiliki fasilitas produksi dan perakitan yang lengkap. Bahkan, INKA menyiapkan dua lini produksi khusus untuk produk LRT Jabodebek. INKA diharapkan dapat memenuhi target penyelesaian pengiriman pertama empat set kereta pada Maret 2019 dengan asumsi kontrak dimulai Januari 2018.

"Kami meminta INKA selaku yang mengerjakan kereta LRT Jabodebek bisa selesai 15 bulan. Kita harapkan INKA mampu menyelesaikan kepercayaan nasional ini," ujarnya.

Target tersebut, kata Airlangga, menyusul telah ditandatangani tujuh kontrak pengadaan LRT Jabodebek yang didapatkan dari INKA sebesar Rp 3,9 triliun. Perusahaan manufaktur itu mendapat sindikasi dari tiga perbankan PT BNI (Persero) Tbk, PT SMI (Persero), dan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia.

"Kalau sudah penandatanganan kontrak, tidak ada lagi hambatan mengerjakan LRT Jabodebek untuk industri di dalam negeri," ujar Airlangga.          

                                   

Menteri Koordinater Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menambahkan, nilai kontrak tersebut mengalami perubahan. Awalnya, kontrak pengadaan LRT Jabodebek sebesar Rp 4,1 triliun. Namun, Luhut meminta dikurangi sehingga bisa turun menjadi Rp 3,8 triliun-Rp 3,9 triliun. "Kita menghitung supaya ini efisiensi," ujarnya.

Luhut pun meminta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dapat mengaudit keuangan dari kontrak tersebut. Sebab, anggaran LRT didapatkan dari porsi APBN 30 persen dan sisanya dari pihak swasta. BPKP, ungkapnya, terlibat dalam setiap pengeluaran supaya tercipta efisiensi. "Sudan lewat masa korupsi dan tidak transparansi," katanya.

Menperin Airlangga Hartarto menyebut Indonesia termasuk salah satu pemain industri manufaktur sarana kereta api terbesar di Asia Tenggara. Produk industri kereta api dalam negeri telah mampu memenuhi pesanan pasar internasional, khususnya ke sesama negara berkembang.

"Kami teras memacu industri perkeretaapian agar bisa menguasai pasar domestik berperan dalam rantai pasok industri perkeretaapian untuk pasar global," ujar Airlangga.

Perusahaan-perusahaan BUMN yang selama ini meniasok komponen kereta api, antara lain PT Pindad untuk rem, PT LEN untuk persinyalan, PT Barata untuk bogie, dan PT Krakatau Steel untuk bahan baku baja. Sistem persinyalan sangat penting dalam LRT Jabodebek. Maklum, LRT Jabodebek merupakan rangkaian kereta api ringan yang beroperasi otomatis tanpa masinis dengan sistem persinyalan yang mampu mendeteksi posisi kereta maupun halangan. LRT terdiri atas enam kereta dengan panjang no meter.

Jalur yang akan dilewati LRT Jabodebek mulai dari Stasiun Dukuh Atas hingga ke Stasiun Cawang. DariiStasiun Cawang, terdapat dua jalur yang mengarah ke dua stasiun, yakni Stasiun Cibubur dan Stasiun Bekasi Timur.

Dengan komposisi tempat duduk yang saling berhadapan sebanyak 174 kursi dan maksimum kapasitas penumpang berdiri hingga 1.134 orang, LRT Jabodebek mampu mengangkut sebanyak 1.308 penumpang.

Dari segi keselamatan dan kenyamanan, ruang penumpang LRT Jabodebek akan dilengkapi fitur kursi penumpang ergonomis, kursi lipat untuk penumpang difabel, rak bagasi, pintu otomatis, audio announcer, serta fitur penunjang lainnya.

LRT Jabodebek menggunakan paduan aluminium untuk material eksterior dan panel interior dengan desain modern dan tahan rambatan api.

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM