BERITA INDUSTRI

Manufaktur Sumbang Pajak 31,8%


Sumber : Bisnis Indonesia (10/01/2018)

JAKARTA - Industri pengolahan menjadi penyumbang pajak terbesar pada 2017 dengan kontribusi 31,8% dari total keseluruhan penerimaan pajak negara.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan industri manufaktur juga berperan sebagai kontributor utama penyumbang produk domestik bruto (PDB) pada 2017.

"Industri manufaktur mampu memberikan kontribusi tertinggi sebagai penyetor pajak. Artinya, mereka juga menunjukkan kepatuhan wajib pajak," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (9/1).

Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, realisasi penerimaan pajak tahun 2017 telah menyentuh angka Rp1,151 triliun. Adapun PPh dari sektor nonmigas sebesar Rp596,89 triliun.

Industri pengolahan terus menjadi kontributor tertinggi terhadap penerimaan PPh nonmigas sebesar 31,8%, diikuti sektor perdagangan 19,3%, jasa keuangan 14%, dan pertanian 1,7%. Sepanjang 2017, penerimaan pajak dari sektor manufaktur tercatat tumbuh sebesar 17,1%.

Airlangga juga menyebutkan aktivitas industri dapat membawa efek berganda secara signifikan bagi perekonomian di Indonesia. Sumbangsih tersebut terlihat misalnya melalui peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.

"Kementerian Perindustrian fokus menjalankan kebijakan hilirisasi industri," jelasnya.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, Kemenperin memprediksi total tenaga kerja yang terserap di sektor manufaktur pada 2017 mencapai 17,01 juta orang. Angka tersebut tercatat naik apabila dibandingkan dengan serapan tenaga kerja pada 2016 sebanyak 15,54 juta orang.

Ekspor industri pengolahan nonmigas sampai dengan November 2017 sebesar US$114,67 miliar atau tumbuh 14,25% dibandingkan dengan periode yang sama tahun tahun sebelumnya sebesar US$100,36 miliar.

Ekspor industri pengolahan nonmigas ini memberikan kontribusi hingga 74,51% dari total ekspor nasional sampai November 2017 yang mencapai nilai US$153,90 miliar.

Untuk semakin mendongkrak daya saing manufaktur, Kemenperin mengupayakan pemberian insentif fiskal kepada industri yang mengembangkan pendidikan vokasi dan membangun pusat inovasi di Indonesia.

Fasilitas insentif fiskal tersebut merupakan hasil benchmark dengan Thailand dan negara lain. (Andry Winanto)

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM