ARTIKEL PENDIDIKAN

Kiat Mengembangkan Produk Lokal Dari 3 Pebisnis Andal


Pendidikan Vokasi Industri mengarahkan mereka pada keberhasilan dan kemandirian

Kemajuan pasar penjualan produk dalam negeri patut menjadi kebanggaan. Sejak beberapa tahun silam, pertumbuhan minat terhadap karya anak bangsa terus meningkat, khususnya dalam bidang mode. Hal ini praktis mengembangkan kemajuan daya saing sektor ekonomi dan industri Tanah Air di mata dunia. Namun produktivitas tersebut akan sulit terjadi bila tidak diiringi dengan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Sebagai bentuk kontribusi langsung, Kementerian Perindustrian memiliki program pendidikan Vokasi Industri yang bertujuan menghasilkan SDM Industri yang terampil.

Demi mendorong kemajuan sektor industri di negeri sendiri, setidaknya terdapat 3 faktor yang harus dimiliki seseorang yaitu teknologi, modal dan keahlian. Program pendidikan Vokasi Industri akan membekali ilmu pengetahuan dasar mengenai berbagai kebutuhan dunia kerja sekaligus menempatkan anak didik ke dalam bidang industri sesuai dengan passion masing-masing. Ketiga lulusan program pendidikan Vokasi Industri berikut ini berbagi kisah perjalanan mereka hingga berhasil menjalankan penjualan produk dalam negeri dengan sukses.




Febri Purnomo Puspo, Pendiri Merek Berliano

Pada tahun 2008, Febri resmi menjadi lulusan program pendidikan Vokasi Industri. Jurusan teknologi pengolahan kulit yang ia jalani menjadi bekal awal kesuksesan produk mode Berliano yang telah berjalan sejak tahun 2011. “Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dari program pendidikan vokasi. Selain belajar mengenal karakteristik bahan baku, saya juga menjumpai mitra yang berkecimpung di perindustrian material kulit. Ilmu yang akan selalu saya ingat dan terapkan adalah totalitas dalam menjalankan bisnis,” tutur Febri.

Pria kelahiran tahun 1986 ini juga berbagi tip merintis usaha produk dalam negeri untuk para generasi muda. Pertama-tama, seorang pebisnis harus mampu menguasai sistem usaha, mulai dari pemahaman dasar, tren, hingga pemasaran. Bila menemukan nilai produk yang tinggi, maka harus mendukungnya dengan segmentasi pasar yang tepat. Persaingan akan terus terjadi, bahkan dari sisi kesamaan produk. Karena itulah seorang pebisnis juga harus menemukan keunikan dan keungulan dari produk agar tetap menjadi yang teratas.




Pipit Fitriyani Hayati, Direktur PT. TESTEX Testing and Certification.

Ibu satu orang anak lulusan program pendidikan Vokasi Industri ini berporfesi sebagai Direktur PT. TESTEX Testing and Certification. Ilmu yang ia dapatkan dari program tersebut berperan penting dalam tuntutan pasar dan inovasi teknologi. Gelar yang Pipit peroleh juga memengaruhi daya saing yang lebih tinggi dibandingkan lulusan lain. “Saat ini seluruh staf saya merupakan lulusan dari pendidikan Vokasi Industri. Kami merasa bahwa lulusan program tersebut memiliki nilai personal, khususnya dari segi pengetahuan tekstil yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan kami”, jelasnya.

Kala itu, perempuan kelahiran tahun 1983 tersebut mengambil jurusan kimia tekstil. Pembelajaran yang ia jalani selama 5 tahun membantunya mengembangkan kemampuan memahami bahan baku, zat warna dan zat kimia, seperti proses pencelupan, teknik cap, serta penyempurnaan tekstil. Hal itu membantu profesinya sebagai pengawas dan pengonfirmasi proses analisa setiap produk tekstil yang akan disertifikasi, sekaligus mengemangkan bisnis PT. TESTEX Testing and Certification ke seluruh wilayah Indonesia. Selain mendalami ilmu tekstil, Pipit juga melihat sudut pandang dari kemajuan teknologi dan tren agar tetap unggul di bidangnya. 

Miftachur, Creative Director Mifta Couture

Pernah menanangkan juara pertama dalam kompetisi Lomba Perancang Mode Jakarta Fashion Week 2015, adalah kebanggan besar bagi Miftachur Rochman. Meski menjalankan pendidikan selama 7 tahun, pria muda kelahiran 1990 ini mengaku bahwa hampir 90% ilmu ia dapatkan dari program pendidikan Vokasi Industri. Berbagai keterampilan seperti memahami tekstil, pengaturan keuangan dan produksi, distribusi mode, membuat pola, desain, hingga menjahit, semuanya ada dalam pengajaran tersebut.

Secara konsisten, Mifta menciptakan sedikitnya 50 rancangan busana setiap bulan. Bagi Mifta, bila generasi muda ingin mengembangkan bisnis produk lokal yang mereka ciptakan, harus mampu mengasah kemampuan lebih kreatif dan inovatif, bekerja keras, memperluas jaringan mitra, serta memperkuat daya analisis pasar mendatang.

(Kissy Aprilia, foto: pxhere.com)




Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM