BERITA INDUSTRI

Ethica Farmasi Genjot Produksi


Sumber : Bisnis Indonesia (24/11/2017)

CIKARANG - PT Ethica Industri Farmasi mengoperasikan pabrik baru yang menelan investasi senilai Rp1 triliun di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang. Kapasitas produksi pabrik obat injeksi itu mencapai 130 juta ampul per tahun.

Presiden Direktur Ethica Industri Farmasi Indrawati Taurus menyatakan pabrik tersebut mampu memproduksi sebanyak 20 jenis ampul untuk memenuhi permintaan program Jaminan Kesehatan Nasional.

"Dalam 3 tahun ke depan, kapasitas dan jumlah produk ampul yang kami hasilkan kami harap naik tiga kali lipat. Dengan inovasi baru, kami menargetkan mulai dapat mengekspor ke berbagai negara di Asia dan Australia," ujarnya saat meresmikan pabrik tersebut, Kamis (23/11).

Ethica merupakan entitas patungan Soho Group dengan perusahaan farmasi Jerman, Fresenius Kabi, yang menguasai 51% saham perusahaan.

Perseroan memfokuskan lini bisnis pada pembuatan produk injeksi. Produk buatan Ethica terutama didukung oleh pemanfaatan teknologi Fresensius Kabi yang juga memfokuskan bisnis di segmen obat injeksi.

"Dukungan shareholder sangat kuat dalam proses alih teknologi. Hal itu memudahkan kami untuk mengembangkan inovasi," ujarnya.

President Region Asia & Board Member Fresenius Kabi AG Gerrit Steen menyatakan pembangunan pabrik usaha patungan tersebut bertujuan untuk menangkap pasar farmasi domestik yang tumbuh pesat sejak bergulirnya program Jaminan Kesehatan Nasional.

"Dalam beberapa tahun ke depan, kami memperkirakan pertumbuhan pasar farmasi di Indonesia mencapai dua digit per tahun," ujarnya.

Kontribusi penjualan farmasi di Indonesia terhadap penjualan global konsolidasi Fresenius Kabi baru mencapai 1%. Gerrit memperkirakan kontribusi tersebut terus meningkat menjadi dua digit dalam 3 tahun ke depan.

"Pertumbuhan pasar farmasi di Asean bisa menjadi salah satu yang terbesar di dunia," ujarnya.

Kebutuhan obat dari program Jaminan Kesehatan Nasional terus meningkat signifikan setiap tahun. Sebagai gambaran, pada 2016 volume permintaan obat program JKN mencapai 5,03 miliar unit. Pada tahun ini, angka itu naik 72% menjadi 8,7 miliar unit.

Permintaan terhadap produk ampul pada program JKN tahun ini mencapai 142,9 juta unit. Permintaan tersebut naik 49% dibandingkan dengan 2016 sebanyak 95,3 juta unit.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, yang juga menghadiri peresmian pabrik, menyatakan laju pertumbuhan industri farmasi akan terus berada di atas proyeksi pertumbuhan ekonomi dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional.

Sektor ini masih memiliki tantangan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku. Pabrikan farmasi menggantungkan sekitar 95% pasokan bahan bakunya dengan mengimpor. "Ketergantungan impor memang terjadi karena investasi yang masuk kebanyakan masih pada sektor hilir," ujarnya.

Pemerintah akan mengkaji penerapan insentif fiskal yang mampu menarik investasi tertuju kepada penguatan sektor hulu. Salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan, menurut Airlangga, adalah dengan merujuk Thailand yang memberikan insentif fiskal untuk riset pengembangan sektor kimia dan farmasi.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyatakan ketergantungan terhadap bahan baku impor merupakan salah satu penyebab mengapa harga obat menjadi relatif mahal.

"Kebanyakan belum mampu membuat bahan baku obat sendiri di dalam negeri, istilahnya hanya meracik saja," ujarnya.

BAHAN BAKU

Pemerintah tengah menggodok pembentukan konsorsium bahan baku obat untuk kebutuhan industri farmasi. Konsorsium ini bertujuan agar industri farmasi dapat mengutamakan penyerapan bahan baku lokal.

"Kimia Farma yang kami dorong di depan. Bisa saja melibatkan asing juga, tetapi mesti diatur industrinya siapa saja yang bisa ikut di ujung. Konsorsium bahan baku ini supaya setiap perusahaan farmasi tidak perlu lagi membuat bahan baku yang sama," ujarnya.

Pemerintah mengupayakan untuk mengikutsertakan investor asing dalam konsorsium tersebut guna mendukung ketersediaan teknologi yang belum tersedia di dalam negeri.

Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang menyatakan industri memerlukan setidaknya 1.200-1.500 zat aktif sebagai bahan baku. Hanya saja, baru beberapa pabrikan yang mampu memproduksi bahan baku di dalam negeri.

Baru tiga pabrikan farmasi di dalam negeri yang mulai mengembangkan bahan baku di dalam negeri, yaitu Kimia Farma, Kalbe Farma, dan Dexa Medica.

"Beberapa jenis bahan baku sudah ada yang mulai membuat tetapi dalam jumlah yang sangat terbatas," ujarnya.

Share:

Twitter