BERITA INDUSTRI

Utilisasi Industri Baja Ditargetkan 70-80%


Sumber : Investor Daily (16/11/2017)

JAKARTA – Utilisasi industri baja nasional ditargetkan naik menjadi 7080% dari saat ini sekitar 50%. Target tersebut diharapkan tercapai seiring masifnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah, dan berkurangnya pasokan baja Tiongkok ke pasar global.

“Sekarang kan permintan dalam negeri lebih banyak dari suplai. Jika utilisasi mencapai 70-80%, paling tidak industri dalam negeri bisa memenuhi setengah dari total permintaan. Apalagi, pertumbuhan industri baja diproyeksi mengikuti pertumbuhan ekonomi, yakni 5%. Bahkan, jika pembangunan infrastruktur tetap berjalan, pertumbuhan industri baja bisa di atas 7%,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) I Gusti Putu Suryawiryawan usaiMunas Indonesian Iron and steel Industry Association (IISIA), di Jakarta, Rabu (15/11).

Diakui Putu, industri baja masih belum bisa memasok sepenuhnya kebutuhan domestik, sehingga perlu adanya upaya untuk mendongkrak produksi dan meningkatkan utilisasi.

“Saya minta pada asosasi agar lihat lebih mikro per sektornya, suplai demand tidak seimbang karena apa. Apakah karena industrinya belum ada, atau ada tapi dia belum bisa berproduksi karena tidak kompetitif. Tidak kompetitif karena apa, kanfaktornya banyak sekali. Mereka yang lebih tau masalahnya,” jelas dia.

Jika sudah dikaji secara komprehensif, lanjut dia, barulah pemerintah akan memutuskan untuk melakukan intervensi atau tidak. Misalnya, pengetatan impor baja yang dilakukan tahun ini, agar industri baja dalam negeri bisa mendapatkan bagian dalam membangun infrastruktur.

“Kami tidak melarang impor, tapi kami kontrol. Jangan sampai terulang lagi banjir produk impor seperti waktu itu, yang dampaknya masih dirasakan sampai sekarang.Karena dengan adanya kelebihan pasokan, baja masuk ke dalam golongan barang spekulasi. Supaya tidak terjadi lagi, kita kontrol,” jelas dia.

Dia menegaskan, pemerintah berupaya agar kebutuhan baja domestik jangan diisi sebagian besar dari impor. “Kalau sudah dibanjiri impor, kita akan menikmati menjadi trader ketimbang manufaktur. Bukan berarti kami anti, karena sekarang tidak ada negara yang tidak impor sama sekali, karenamemang sekarang era terbuka. Yang dibicarakan adalah kemandirian dan daya saing. Kalau kita belum mampu, baru impor,” kata Putu.

Putu menambahkan, pemerintah juga menjaga agar jangan sampai industri hilir kesulitan medapatkan bahan baku. “Dalam struktur industri baja, profitnya berada di hilir. Jika hilir terkendala dan memilih untuk impor produk jadi, yang menikmati tentu industri di negara lain,” terang dia.

Pasar baja domestik, kata dia, harus dijaga agar impor yang masuk bukan merupakan barang jadi, tetapi bahan baku, sehingga ada nilai tambah investasi dan lapangan kerja. “Kita harus bisa memastikan agar utilisasi industri dalam negeri terjaga, dan menghasilkan produk-produk yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi dari impor,” ujar dia. (ajg)

Share:

Twitter