BERITA INDUSTRI

Baja Jadi Primadona


Sumber : Bisnis Indonesia (15/11/2017)

JAKARTA - Industri baja menopang realisasi investasi di segmen pabrikan logam, mesin, alat transportasi dan elektronika pada periode Januari hingga September 2017.

Direktur Jenderal Ilmate Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan pada Selasa (14/11) mengatakan kontribusi tertinggi di sektor manufaktur logam masih dipegang oleh sektor baja. Industri logam menjadi salah satu prioritas pemerintah karena bahan bakunya tersedia di Indonesia dan mendukung proyek infrastruktur.

Pemerintah memiliki proyek pengembangan klaster baja karbon di Cilegon sebesar 10 juta ton pada 2025. Klaster baja ini merupakan kawasan industri baja terintegrasi yang melibatkan produsen baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., Pohang Iron and Steel Company (Posco) asal Korea Selatan, serta Nippon Steel dan Osaka Steel yang berasal dari Jepang.

Selain klaster baja Cilegon, produksi baja dalam negeri juga akan bertambah dengan masuknya investor asal China, yaitu Delong Holdings, yang akan membangun pabrik baja karbon melalui PT Dexin Steel Indonesia. Perusahaan ini merupakan perusahaan patungan anak usaha Delong Holdings, yaitu Delong Steel Singapore Projects, bersama PT Indonesia Morowali Industrial Park, dan Shanghai Decent Investment Group.

"Masuknya investor asal Negeri Tirai Bambu tersebut akan meningkatkan produksi baja kasar dalam negeri sebesar 3,5 juta ton pada 2020," ujar Putu.

Pemerintah memperkirakan pada 2020 secara keseluruhan terdapat tambahan produksi baja sebesar 6,5 juta ton dari kisaran 6,8 juta ton pada tahun lalu.

"Rinciannya, tambahan kapasitas 1,5 juta ton dari Krakatau Steel, 1,5 juta ton dari Gunung Garuda, dan 3,5 juta ton dari Delongs Group," katanya.

Basso Datu Makahanap, Standard & Certification Committee The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), menuturkan konsumsi baja nasional yang terus meningkat menjadi pasar yang menarik bagi investor. Sepanjang tahun lalu, konsumsi baja tercatat sebesar 12,7 juta ton, sedangkan produsen dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan crude steel sebesar 6,8 juta ton, sehingga sisanya harus diimpor.

Dengan kebijakan pemerintah yang saat ini fokus dalam pembangunan infrastruktur, permintaan baja hingga 2025 diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 21,4 juta ton. Apabila kebutuhan baja dapat dipenuhi oleh produsen dalam negeri, Basso menyatakan efek pengganda akan dirasakan semua pemangku kepentingan di sektor ini.

Menurutnya, efek pengganda dari industri baja tidak hanya terlihat di sisi penyerapan tenaga kerja, tetapi juga dari sisi penerimaan pajak negara. Untuk dapat menarik investor di industri baja, Basso menyatakan pemerintah perlu memberik dukungan, seperti merilis regulasi kemudahan berinvestasi. Selain itu, industri baja yang tangguh juga memerlukan kepastian pasokan, kualitas infrastruktur, serta model investasi.

Kementerian Perindustrian mencatat realisasi investasi industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (Ilmate) periode Januari-September 2017 senilai Rp68,36 triliun. Penanaman modal asing mendominasi sektor ini dengan realisasi investasi senilai Rp57,5 triliun.

Realisasi investasi Ilmate terbesar berada di industri logam, mesin, dan elektronik senilai Rp51,84 triliun, disusul industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain senilai Rp16,49 triliun, dan industri instrumen kedokteran, presisi, dan optik dan jam senilai Rp30 miliar. (Annisa Sulistyo Rini)

Share:

Twitter