BERITA INDUSTRI

Angin Segar di Industri Tekstil


Sumber : Bisnis Indonesia (06/11/2017)

JAKARTA — Langkah pabrikan memindahkan pabrik ke Jawa Tengah, sebagai upaya mencari lokasi dengan ongkos produksi yang lebih rendah, mendorong peningkatan investasi tekstil pada tahun ini.

Nilai investasi di sektor industri tekstil sudah menembus Rp10 triliun pada kuartal ketiga tahun ini. Angka tersebut bahkan melampaui capaian investasi tekstil sepanjang tahun lalu senilai Rp7,54 triliun.

Kenaikan penanaman modal dalam negeri menjadi penopang tatkala investasi asing justru melandai. Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat nilai investasi industri tekstil pada Januari—September tahun ini mencapai Rp10,24 triliun. Penanaman modal dalam negeri mendominasi dengan nilai investasi mencapai Rp 6,96 triliun, naik 142% dibandingkan dengan Januari—September tahun lalu senilai Rp2,87 triliun.

Sementara itu, penanaman modal asing tercatat senilai US$243,6 juta (setara Rp 3,28 triliun), atau turun 13% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai US$276,9 juta.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat menyatakan kenaikan investasi tersebut sejalan dengan langkah relokasi besar-besaran industri tekstil ke Jawa Tengah.

Relokasi industri tersebut memungkinkan pabrikan mengalihkan sebagian alokasi belanja operasional menjadi belanja modal untuk menggenjot ekspansi.

“Dengan upah yang relatif lebih terukur di Jawa Tengah, biaya produksi menjadi lebih efisien. Dampaknya pabrik-pabrik bisa berinvestasi lebih besar untuk menambah mesin baru,” ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Menurutnya, pabrikan tekstil di Indonesia terlihat intensif meningkatkan kapasitas pada industri hulu. Hal tersebut terlihat dengan banyaknya industri yang memperbesar kapasitas fasilitas produksi serat dan pemintalan. “Sejauh ini bisa dibilang relatif banyak yang mulai berinvestasi di hulu,” ujarnya.

Ade menyatakan beberapa pabrikan besar mulai meningkatkan kapasitas untuk mengantisipasi tren kenaikan permintaan pada pertengahan tahun depan. “Pengusaha tekstil rata-rata melihat pasar pada tahun depan semakin membaik, itu sebabnya mereka mulai menambah kapasitas.”

Menurutnya, pabrikan tekstil mulai merasakan adanya kenaikan permintaan domestik dan ekspor pada kuartal keempat tahun ini. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor tekstil dan garmen periode Januari—September tahun ini mencapai US$9,38 miliar, atau naik 4,69% dibandingkan dengan ekspor tekstil periode yang sama tahun lalu senilai US$8,96 miliar.

Ade menyatakan pemerintah perlu mempercepat proses renegosiasi pembebasan tarif dalam free trade agreement dengan Eropa karena daya saing produk tekstil ekspor Indonesia kalah kompetitif dengan Vietnam yang memperoleh pembebasan tarif ke benua tersebut.

“Pembebasan tarif itu yang mesti segera dirampungkan, atau minimal beres tahun depan. Kalau ke sana bebas bea masuk, serapan tenaga kerja tekstil bisa melonjak sangat signifikan,” ujarnya.

Sementara itu, Dirjen Industri Kimia Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono menyatakan permintaan domestik terhadap produk industri tekstil meningkat 30% pada kuartal ketiga tahun ini.

Kenaikan permintaan itu mendorong pabrikan meningkatkan utilisasi produksi sebesar 5%—10%. Kemenperin menargetkan nilai ekspor tekstil menembus US$15 miliar pada 2019 dan mampu menyerap sebanyak 3,11 juta tenaga kerja pada 2019.

Share:

Twitter