SIARAN PERS

Industri TPT Nasional Perlu Diversifikasi Produk Nonsandang


Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional perlu melakukan inovasi dalam pengembangan produknya sehingga dapat menangkap peluang dari tren pasar global saat ini. Pasalnya, sektor ini tidak hanya menghasilkan produk untuk kebutuhan sandang atau pakaian, tetapi telah berkembang menjadi industri tekstil non-sandang.


“Jadi sekarang produk tekstilnya dimanfaatkan untuk material pembangunan infrastruktur jalan tol, agro-textiles, medis hingga industri makanan dan minuman, otomotif, serta manufaktur konsumsi lainnya,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Industri dan Kekayaan Intelektual, Sony Sulaksono pada acara Diseminasi Hasil Litbang Tekstil dan Business Gathering 2017 di Bandung, Selasa (24/10).


Kemenperin memproyeksikan, komoditas industri tekstil non-sandang ini pasarnya masih cukup luas dan permintaannya besar.Rata-rata meningkat dalam periode lima tahun terakhir sebesar 9,9 persen per tahun, dengan kontribusi Indonesia mencapai 0,47 persen dari kebutuhan dunia.


Untuk menghasilkan produk-produk tekstil fungsional (functional textile) yang berkualitas, menurut Sony, perlu didukung dengan hasil-hasil penelitian dan pengembangan (litbang) seperti yang dilakukan oleh Kemenperin melalui Balai Besar Tekstil (BBT) Bandung.


“Kami ingin menjawab ekspektasi konsumen yang lebih dari sekedar sandang konvensional, namun sudah masuk kedalam ranah tekstil fungsional yang memiliki karakter dan sifat spesifik sesuai dengan fungsinya,” tuturnya.


BBT Bandung merupakan salah satu unit kerja Kemenperin di bawah binaan Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI). Balai tersebut memiliki dua tugas pokok, yaitu pelaksanaan kegiatan litbang di bidang tekstil serta memberikan layanan jasa teknis kepada industri TPT.


Sony menyebutkan, beberapa hasil litbang tekstil tahun 2017 dari BBT Bandung yang diseminasikan, antara lain tekstil anti nyamuk berbahan aktif mikrokapsul minyak kulit jeruk nipis, pembuatan tekstil anti bakteri dengan zat aktif alami dari kitosan, dan tekstil fungsional untuk atap yang bersifat anti ultraviolet.


Selanjutnya, panel pengendali kebisingan suara dari bahan serat alam dan limbah tekstil, tekstil teknik dari limbah kain denim untuk penutup hasil pengecoran jalan, serta produksi gum xanthan dari limbah padat tahu dan bakteri xanthomonas untuk mensubstitusi gum xanthan impor.


“Kami berharap, sejumlah hasil litbang tersebut dapat diimplementasikan oleh industri TPT nasional sehingga akan memacu daya saing dan produktivitasnnya serta memperluas pasar ekspor,” ungkapnya. Selain itu, kegiatan litbang diharapkan dapat membantu mengatasi dalam hal diversifikasi produk sertaperbaikan proses produksi dan mutu produk.


Kepala BPPI Ngakan Timur Antara mengingatkan bahwa dalam pengembangan produk-produk tersebut tetap harus mengakomodir ketentuan perundang-undangan seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 2015 tentang Perindustrian, salah satunya adalah harus menganut prinsip-prinsip industri hijau.


“Industri hijau adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan,” jelasnya.


Untuk mengakselerasi penguatan daya saing industri TPT nasional yang lebih baik lagi, pada kesempatan tersebut, dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara BBT Bandung dengan tujuh pemangku kepentingan terkait, yaitu menggandeng PT. Rekadaya Multi Adiprima dalam hal implementasi dan komersialisasi hasil litbang produk peredam suara serta produk covering pengecoran jalan dari waste kain denim.


Dengan Universitas Kristen Krida Wacana terkait kerja sama bidang geosintetik material, Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI) dalam hal pengembangan serat sintetik untuk tekstil fungsional,  dan PT. Ghozi Sapta Persada untukimplementasi hasil litbang berupa teknologi slub & fancy yarn untuk natural window covering.


Selanjutnya, Surfactant and Bioenergy Research Center - Institut Pertanian Bogor (SBRC-IPB) dalam hal  pengembangan dan aplikasi surfaktanpada proses tekstil, serta Nano Center Indonesia terkaitpengembangan dan aplikasi nanoteknologi untuk proses tekstil.


Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.



Share:

Twitter