BERITA INDUSTRI

Peremajaan Pabrik Mendesak


Sumber : Bisnis Indonesia

JAKARTA - Kementerian Perindustrian mendorong pabrikan pupuk dengan lini produksi lebih dari 20 tahun untuk segera melakukan revitalisasi guna meningkatkan daya saing.

Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen Industri Kimia Tekstil dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), menyampaikan produsen pupuk nasional berpotensi kehilangan pasar karena kalah dalam kompetisi dengan produsen pupuk di Asia.

"Bagaimana bisa bersaing jika beberapa pabrikan pupuk nasional memiliki teknologi yang tertinggal. Padahal di negara lain sedang giat melakukan revitalisasi pabrikan pupuk," kata Sigit ketika dihubungi Bisnis, Rabu (23/8).

Penggunaan teknologi yang lebih terkini termasuk penggunaan mesin yang lebih hemat energi dapat mendorong perusahaan memangkas ongkos produksi, termasuk harga gas.

Selain itu, kapasitas produksi mesin baru juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan mesin lama.

Sigit menambahkan tiga pabrikan sukses merevitalisasi pabrik, yaitu Pusri 2B, Pupuk Kaltim V, dan Petrokimia gresik Amurea II.

Pabrik Kaltim V telah beroperasi sejak November 2015 dengan kapasitas 1,15 juta ton urea dan 825.000 ton amoniak per tahun.

Selain itu, pabrik Pusri II B yang telah direvitalisasi memiliki kapasitas produksi 907.000 ton urea dan 660.000 ton amoniak. Adapun, pabrik Petrokimia Gresik Amurea II memiliki kapasitas produksi sebesar 570.000 ton urea dan 660.000 ton amonia per tahun.

"Ketiga pabrik tersebut kini dapat berbicara lebih banyak di pasar internasional. Teknologi yang mereka terapkan jauh lebih maju dibandingkan dengan sebelumnya," imbuhnya.

Pabrik pupuk juga kalah bersaing karena terhambat oleh harga gas yang tinggi. Produsen pupuk asal Malaysia dapat menikmati harga US$2,8 per MMbtu dibandingkan dengan Indonesia yang masih di atas US$6 per MMbtu.

Sigit menambahkan Kemenperin terus melakukan upaya agar penurunan harga gas untuk kebutuhan industri dapat segera terealisasi. "Saat ini masih menunggu kebijakan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral," imbuhnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor pupuk menurun 25,37% pada periode Januari-Juli pada 2017 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi 574.781.

Dadang Heru Kodri, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI), menyampaikan jika tarif gas yang belum merata untuk semua pabrikan pupuk nasional menjadi faktor utama ekspor menurun pada 7 bulan pertama tahun ini.

"Pabrikan pupuk nasional yang dapat bersaing di pasar Asia Tenggara hanya PT Pupuk Kaltim karena harga gas mereka US$3 per MMBtu. (Regi Yanuar W.D.)

Share:

Twitter