BERITA INDUSTRI

Pabrikan Perlu Genjot Ekspor


Sumber : Bisnis Indonesia (25/08/2017)

JAKARTA - Peningkatan volume ekspor merupakan satu-satunya pilihan agar pabrikan semen tidak kolaps saat pasar domestik mengalami kelebihan pasokan.

Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia Widodo Santoso menyatakan banyak permintaan dari negara tujuan ekspor yang masih belum tergarap optimal.

"Satu-satunya jalan agar industri semen tidak kolaps adalah dengan menggenjot ekspor," ujarnya, Kamis (24/8).

Menurutnya, pabrikan lokal mesti mulai mengarahkan sebagian produksi ke sejumlah negara yang mengalami kelangkaan pasokan semen. Pasar ekspor semen yang masih belum tergarap secara maksimal terdapat di kawasan di Timur Tengah, Afrika, dan Australia.

"Terutama ke Australisa yang lebih mudah untuk dikembangkan. Kebutuhan semen dan clinker Australia itu tinggi sekali karena mereka sama sekalli tidak mengizinkan adanya processing semen," ujarnya.

Potensi pasar di sejumlah negara berkembang di Afrika dan Timur Tengah terbuka lebar karena kebutuhan terus meningkat. "Bayangkan saja ribuan gedung yang perlu dibangun ulang, tentu memerlukan pasokan semen," ujarnya.

Sebagai gambaran, kapasitas terpasang industri semen Indonesia mencapai 106 juta ton setiap tahun. Volume itu jauh melampaui permintaan tahunan sebanyak 63 juta ton. Menurutnya, utilisasi pabrikan semen pada Januari-Juli 2017 hanya sebesar 60% dari total kemampuan produksi.

Hanya saja, pabrikan semen lokal masih sangat bergantung kepada permintaan pasar domestik. Produsen semen lokal baru mengekspor sebanyak 1,5 juta ton dari keseluruhan produksi. Sejumlah pasar ekspor utama Indonesia merupakan Bangladesh, Sri Lanka dan, Mauritius. Widodo memproyeksikan volume ekspor melejit ke angka 2,5 juta ton.

"Kuncinya adalah dengan meningkatkan penjualan ke pasar ekspor, kalau tidak, ya utilisasi yang semakin terancam," ujarnya.

PASAR DOMESTIK

Pada kesempatan terpisah, Dirjen Industri Kimia Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan mayoritas pabrikan semen masih menggantungkan penjualan di pasar domestik. Sebab pabrikan juga memperhitungkan komponen biaya logistik untuk mendistribusikan semen ke negara tujuan.

Akibatnya, pasar ekspor masih saja lebih banyak berkutat di sejumlah kawasan Asean, seperti Filipina dan Timor Leste. Menurutnya, peta persaingan untuk memperebutkan pangsa ekspor di kawasan bukan perkara mudah karena negara-negara lain di kawasan ASEAN juga menghadapi situasi kelebihan pasokan.

Vietnam misalnya memiliki kapasitasitas produksi semen sebesar 80 juta ton. Adapun, permintaan domestiknya hanya sebesar 45 juta ton. Begitu juga dengan Thailand yang memiliki kemampuan produksi semen 45 juta ton setiap tahun, sedangkan permintaan domestik hanya 25 juta ton setahun.

Indonesia bakal menjadi tuan rumah perhelatan Konferensi Industri Semen Internasional pada 11 September-13 September 2017 di Jakarta. Konferensi tahunan itu bakal mempertemukan seluruh pemangku kepentingan industri semen dari sebanyak 300 perusahaan multinasional 35 negara. Konferensi tersebut bakal mengulas perkembangan pasar industri, teknologi, jaringan distribusi global.

"Forum itu menjadi kesempatan yang baik bagi para produsen semen untuk membangun jejaring dan memperluas pasar ekspor," ujar perwakilan Intercem Asia Matthew Owen.

Share:

Twitter