BERITA INDUSTRI

Harga Gas Industri Baja Diusulkan Turun 50%


Sumber : Investor Daily (24/08/2017)

JAKARTA – Harga gas untuk industri baja dinilai masih terlalu mahal, kendati telah dipangkas dari US$ 7,35 menjadi US$ 6 per million metric british thermal unit (mmbtu). Oleh sebab itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan harga gas sektor ini dipangkas lagi berkisar 33-50%menjadi US$ 3-4 per mmbtu untuk mendongkrak produksi.

Harga gas yang masih tinggi membuat PT Krakatau Steel Tbk (KS), produsen baja terbesar nasioal, belum juga mengoperasikan pabrik besi dan baja kasar (slab dan billet). Alhasil, kebutuhan slab dan billet domestik mayoritas ditutup dari impor.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (Indonesia Iron and Steel Industry Association/ IISIA), pemanfaatan kapasitas terpasang industri baja hanya 50% pada semester I-2017, di bawah target sebesar 80%.

Ini lantaran impor besi dan baja pada periode sama melonjak 19,4% menjadi US$ 3,52 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi menuturkan, industri logam masih membutuhkan harmonisasi regulasi untuk menjamin kepastian produksi. Salah satunya adalah yang menyangkut harga energi, yakni listrik dan gas, yang hingga kini masih mahal dan membebani industri.

“Perlu adanya perbaikan-perbaikan dan harmonisasi regulasi untuk menjamin kepastian produksi terhadap industri logam nasional agar kinerjanya semakin tumbuh dan berkembang,” kata Doddy Rahadi di Jakarta, Rabu (23/8).

Doddy mencontohkan, kenaikan harga listrik 1 sen per kwh mendongkrak ongkos produksi baja sebesar US$ 8 per ton. Untuk harga gas, Kemenperin mengusulkan berkisar US$ 3-4 per mmbtu.

Dia menambahkan, industri logam juga membutuhkan perbaikan dari aspek teknologi dengan merevitalisasi permesinan, sehingga produksi menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.

“Bahkan, Kemenperin telah memfasilitasi investor dalam memperoleh insentif seperti tax allowance dan pembebasan bea masuk untuk barang modal,” ujar dia.

Dia menjelaskan, produk logam dasar seperti baja merupakan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri lainnya, seperti industri permesinan dan peralatan pabrik, otomotif, maritim dan elektronika.

Di samping itu, produk logam merupakan komponen utama dalam pembangunan sektor ekonomi lainnya, yaitu sektor konstruksi secara luas yang meliputi bangunan dan properti, jalan dan jembatan, serta ketenaga listrikan.

Selain biaya energi dan teknologi, kata Doddy, industri logam masih dibayangi banjirnya produk logam impor di pasar domestik, dengan harga murah. Kemenperin mencatat, pada kuartal II-2017 industri logam tumbuh 7,5%, tertinggi dibandingkan sektor manufaktur lainnya.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawiryawan mengatakan, untuk menekan penggunaan jumlah produk impor dan mendorong tumbuhnya industri logam nasional, salah satu langkah keberpihakan yang telah dijalankan oleh pemerintah adalah melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Share:

Twitter