BERITA INDUSTRI

Kuartal II, Industri Logam Tumbuh 7,5%


Sumber : Koran Sindo (24/08/2017)

JAKARTA - Industri logam mencatatkan pertumbuhan 7,5% pada kuartal II/2017, tertinggi dibandingkan sektor manufaktur lainnya. Pemerintah berkomitmen menjaga pertumbuhan industri induk ini untuk mendukung pertumbuhan industri lainnya.

"Momentum pertumbuhan sektor industri logam ini harus terus dijaga, bahkan semakin ditingkatkan dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para investor. Selainitu, perlu adanya kebijakan perlindungan industri dalam negeri terhadap produk impor," ujar Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) I Gusti Putu Suryawirawan di Jakarta kemarin.

Peningkatan daya saing industri logam dirasa perlu di tengah membanjirnya produk logam impor di pasar domestik dengan harga jual yang lebih murah.

Menurut Putu, salah satu langkah untuk menekan peng-gunaan jumlah produk impor dengan keberpihakan yang telah dijalankan oleh pemerintah adalah melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

"Upaya strategis ini memberikan dukungan agar menjadi pemicu penggunaan produk logam lokal, terutama terhadap proyek-proyek yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),"ungkapnya.

Program P3DN diharapkan dapat pula mendorong masyarakat ataupun badan usaha supaya lebih menggunakan produk dalam negeri, memberdayakan industri dalam negeri melalui pengamanan pasar domestik, mengurangi ketergantungan produk impor, dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

"Salah satubentuk konkretnya, yaitu dengan mewajibkan instansi pemerintah untuk memaksimalkan penggunaan hasil produksi dalam negeri dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa yang dibiayai oleh APBN atau APBD," imbuhnya.

Di samping itu, Kemenperin terus menggalakkan program implementasi Standar Nasional Indonesia (SNI). Penerapan SNI dapat dilakukan secara sukarela dan wajib. Saat ini produk industri logam sebagian besar menerapkan SNI sukarela.

Putu melanjutkan, Kemenperin juga fokus memacu program pengembangan industri logam berbasis sumber daya lokal karena memiliki prospek yang cukup baik dilihat dari sisi permintaan yang sangat besar. Selain itu, potensi bahan baku didalam negeri yang melimpah semestinya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan daya saing produk domestik. "Beberapa industri logam nasional telah melakukan perluasan usaha. Misalnya, ekspansi untuk memenuhi kebutuhan proyek infrastruktur dan sektor automotif," tutumya.

Direktur Industri Logam Kemenperin Doddy Rahadi mengatakan, perlu adanya perbaikan-perbaikan dan harmonisasi regulasi untuk menjamin kepastian produksi terhadap industri logam nasional agar kinerjanya semakin tumbuh dan berkembang. Menurut Doddy, tantangan yang tengah dihadapi sektor ini misalnya dari aspek energi dengan masih tingginya harga listrik dan gas bagi industri baja. "Jika ada kenaikan harga listrik USD1 sen per kWh, ongkos produksi baja dapat mem-bengkak mencapai USDS per ton,"ungkapnya.

Kemenperin pun telah mengusulkan untuk harga gas kebutuhan produksi baja semestinya berada di kisaran USD3-4 per MMBTU. Saat ini harga gas bagi industri baja rata-rata masih sebesar USD6.3 per MMBTU. Doddy melanjutkan, aspek teknologi juga diperlukan dengan merevitalisasi permesinan sehingga produksi menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.

"Kemenperin telah memfasilitasi investor dalam memperoleh insentif, seperti tax allowance dan pembebasan bea masuk untuk barang modal," ujarnya.

oktiani endarwati

Share:

Twitter