BERITA INDUSTRI

India Tertarik Sektor Pangan


Sumber : Pikiran Rakyat (24/08/2017)

BOGOR, (PR).- Indonesia dianggap potensial dalam pengembangan industri makanan oleh pemerintah India. Menteri Industri Pengolahan Makanan India, Sadhvi Niranjan Jyoti menilai jenis kebutuhan pokok dan pengolahan pangan antara kedua negara memiliki persamaan.

Sadhvi menyampaikan ketertarikannya menjalin kemitraan dengan Indonesia saat mengunjungi Balai Besar Industri Agro (BBIA) Kementerian Perindustrian di Kota Bogor, Rabu (23/8/2017).

"Tujuan kedatangan kami adalah membuka peluang kerja sama bilateral dalam bidang litbang industri, terutama sektor makanan," katanya dalam jumpa pers.

Selain itu, ia juga bermaksud mengundang sekaligus mempromosikan World Food India (WFI) 2017 ke pemerintah Indonesia. Kegiatan tersebut rencananya diselenggarakan pada November 2017 di New Delhi, India. Selain Indonesia, berbagai negara lainnya juga diundang untuk menjalin kerja sama serupa.

Kesamaan antara kedua negara menurut Sadhvi disebabkan kesamaan pada sisi politik, ekonomi, budaya selain juga cukup berdekatan secara geografis. Namun, kondisi perindustrian dan pengolahan makanan India dianggap lebih maju. Ia beralasan, negaranya saat ini menduduki peringkat keenam dunia dalam p'asar makanan dan grosir.

Pertumbuhan tahunan sektor pengolahan makanan di India menurut dia mencapai lebih dari tujuh persen. Selain itu, negaranya juga menjadi basis produksi diversifikasi terbesar di 42 Mega Food Parks.

"Kondisi itu diikuti pertumbuhan industri makanan yang dipasarkan lewat online (daring) mencapai 150% pada 2016 lalu," katanya.

Industri nasional

Signifikasi pertumbuhan sektor industri makanan yang hampir sama dialami Indonesia. Menurut data di kementerian terkait, industri makanan dan minuman nasional tumbuh 7,19% para triwulan II tahun ini.

Pencapaian tersebut berdampak pada produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas yang lebih tinggi dari sektor lainnya mencapai 34,42%.

Sementara itu, kementerian juga rnencatat nilai ekspor produk makanan-minuman dan minyak kelapa sawit sepanjang Januari-Juni 2017 mencapai 15,4 miliar dolar AS. Kondisi tersebut dianggap cukup positif dibandingkan nilai impor sebesar 4,8 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin RI, Ngakan Timur Antara menganggap momentum itu sangat berharga. Ia berharap kedua negara juga bekerja sama dalam hal penelitian dan pengembangan untuk sektor industri makanan dan minuman. la membandingkan populasi penduduk kedua negara cukup besar sehingga memiliki kebutuhan pangan yang sama-sama tinggi.

"Saat ini penduduk India lebih dari 1,3 miliar jiwa dan Indonesia sekitar 261 juta orang. Kebutuhan pangan kita besar. Oleh karena itu, sektor makanan dan minuman menjadi potensi yang baik untuk dikembangkan bersama," kata Ngakan menambahkan.

Sementara itu, Kepala BBIA Bogor Umar Habson menilai, pembangunan sektor industri makanan dan minuman dalam negeri memerlukan inovasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian dan pengembangan oleh para ahli di bidangnya. (Hilmi Abdul Halim)***

Share:

Twitter