BERITA INDUSTRI

Pemerintah Minta Impor Disetop


Sumber : Bisnis Indonesia (06/01/2016)

JAKARTA — Kementerian Perindustrian meminta impor alat pertanian disetop karena pebisnis dalam negeri mampu memasok perangkat ini. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan empat BUMN yang terdiri dari PT Krakatau Steel Tbk., PT Boma Bisma Indra, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, dan PT Sarinah telah berkomitmen untuk menjadi produsen dan pemasok kebutuhan alat pertanian, khususnya cangkul dalam negeri.

Saat ini kebutuhan cangkul nasional mencapai 10 juta unit dengan kemampuan produksi sekitar 14 juta unit. “Bahan baku selalu menjadi persoalan pertama, harga bisa bersaing kalau bahan baku bersaing. PT Sarinah dan PT PPI penyalur dan punya izin impor, maka kalau bisa izin impornya tidak usah dipakai, pakai yang dalam negeri saja,” katanya, usai penandatanganan nota kesepahaman antara empat BUMN dan Kementerian Perindustrian, Kamis (5/1).

Kerja sama tersebut akan berlangsung selama dua tahun. Adapun untuk tindak lanjutnya, akan dibentuk tim monitoring, tim teknis, pengaturan dan penggunaan alat perkakas pemerintah.

Kementerian BUMN, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Dirjen Bea Cukai telah berkomitmen untuk bersama  menggunakan perkakas pertanian dalam negeri.

“Dalam peningkatan kualitas produk, kami mendorong diberlakukannya Standar Nasional Indonesia. Pada tahun anggaran 2017 akan dilakukan amendemen SNI cangkul dan penyusunan SNI egrek,” katanya.

Namun, SNI tersebut tengah dipertimbangkan untuk dinaikkan levelnya menjadi wajib pada 2018. Direktur Utama PT Perusahaan Perdagangan Indonesia Agus Andiyani mengatakan, impor cangkul pada 2016 mencapai 86.000 unit.

Dengan adanya kesepakatan bersama tiga BUMN lainnya, dia berharap kuota impor cangkul yang tiap tahun mencapai 1,5 juta unit tidak lagi dipakai. Selain cangkul, perusahaan juga akan memenuhi kebutuhan lokal berupa dodos untuk memanen kelapa sawit.

“Kalau pun ada izin impor jangan dipakai dulu. Yang penting harga pacul tidak mahal. PT Krakatau Steel Tbk. juga cepat memproduksi materialnya, jadi harga bisa kompetitif,” ujarnya.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk. Sukandar mengatakan pabriknya bisa memproduksi satu gulungan atau coiled dengan berat 23 ton dan dapat memproduksi 20.000 cangkul hanya dalam waktu tujuh menit.

“Hambatannya hanya komunikasi. Kami tidak pakai flat bar tapi pakai plate agar lebih efisien, cukup diblanking bisa jadi lembaran pacul. Kami bisa kirim 100.000 ton untuk bulan ini,” katanya.

Dari sisi kapasitas, perusahaan berkode emiten KRAS tersebut mampu memproduksi 2,4 juta ton, PT Krakatau Posco 1,5 juta ton, dan PT Krakatau Osaka Steel 1,5 juta ton. Alhasil, baja yang keluar dari Cilegon bisa mencapai 6 juta ton.

Adapun Boma Bisma Indra akan berperan sebagai penghasil barang setengah jadi hingga 75%. Proses berikutnya akan diteruskan oleh Sarinah dan Perusahaan Perdagangan Indonesia yang akan mendistribusikan produk. (Nindya Aldila)

Share:

Twitter