BERITA INDUSTRI

Kandungan Lokal Diharapkan Meningkat


Sumber : Bisnis Indonesia (03/01/2017)

JAKARTA — Lokalisasi material baja yang dibesut PT Krakatau Steel (Persero) Tbk atau KS diperkirakan bakal mendongkrak kandungan lokal produk otomotif, meski belum mampu menyentuh kisaran 100%.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan menilai pada tahun ini akan terjadi peningkatan bagi kandungan lokal sektor roda empat. Namun, katanya, untuk mengerek kandungan lokal hingga 100% terbilang sukar. “Hampir tidak mungkin untuk 100% kandungan lokal,” kata Putu kepada Bisnis, Senin (2/1).

Pelaku industri selalu mengharapkan agar produk baja otomotif dapat dipasok dari pasar lokal. Selain kebutuhan baja yang kian meninggi, produsen mobil juga diuntungkan dengan peluang menekan ongkos impor baja.

Pada tahun ini, rencananya akan beroperasi PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNNS). Perusahaan tersebut berkomitmen untuk memproduksi baja khusus otomotif, di tambah lagi dengan kekuatan perusahaan patungan lainnya yaitu Krakatau Osaka Steel (KOS).

Apalagi, KS pun telah melakukan groundbreaking fasilitas pabrik untuk bahan baku otomotif di kawasan Cilegon, dengan nilai investasi mencapai US$460 juta. Pabrik yang dibangun Krakatau Steel tersebut memiliki kapasitas 1,5 juta ton baja lembaran panas per tahun, sehingga menambah kapasitas produksi dari 2,4 juta menjadi 3,9 juta ton per tahun.

Dia mengutarakan baja untuk otomotif beragam jenis. Lebih-lebih, kata Putu, penggunaan material baja tiap model dan jenis mobil mempunyai kombinasi berbeda-beda. “Karena itu lokalisasi material baja hanya akan meningkatkan kandungan lokal,” tuturnya.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono menyimpulkan pencapaian kandungan lokal 100% itu dimungkinkan, tetapi harus ditempuh secara perlahan.

Menurutnya, dengan kemampuan saat ini, problem utama memang terletak pada industri hulu, seperti baja, karet, dan plastik yang juga dibutuhkan produsen mobil. “Kalau dari sisi kemampuan teknologi pabrikan mobil, Indonesia sudah mempunyai daya saing tinggal bahan baku secara perlahan harus dilokalkan,” katanya.

Bagi mobil murah atau low cost green car (LCGC) yang merupakan program pemerintah bertajuk Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) kandungan lokal hingga angka maksimal belum bisa terwujud. “Namun kenaikan kandungan lokal LCGC itu ter pantau melalui laporan surveyor,” kata Putu.

Saat ini, mobil-mobil LCGC yang terdiri dari Agya, Ayla, Calya, Sigra, Brio Satya, Wagon R, dan Datsun memang diberikan tenggat hingga lima tahun untuk menggapai tingkat kan dungan lokal 80%. Hanya saja, terdapat produk seperti Brio Satya keluaran Honda yang di klaim sudah mencapai kandungan lokal 86%. (Kahfi)

Share:

Twitter