BERITA INDUSTRI

Pemerintah Genjot Industri Mamin


Sumber : Republika (27/12/2016)

JAKARTA - Sektor industri makanan dan minuman (mamin) diharapkan menjadi motor pertumbuhan dalam negeri di luar sektor minyak dan gas (migas) tahun depan. Sejauh ini industri mamin berkontribusi cukup besar terhadap perekonomian domestik nonmigas.

"Kalau untuk 2017 secara umum kita tetap akan tumbuh relatif lebih baik dari pertumbuhan ekonomi nasional. Kita prediksi akan ada pada angka sembilan persen pertumbuhannya," kata Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Rachmat Hidayat kepada Republika, Senin (26/12).

Rachmat menyebutkan, hingga kuartal ketiga tahun ini, industri mamin mampu tumbuh mencapai 8,2-8,5 persen. Angka ini masih bisa meningkat karena pada kuartal keempat setiap tahun biasanya permintaan mamin naik menyusul perayaan Natal dan Tahun Baru.

Rachmat berharap pemerintah menjaga pertumbuhan industri mamin ini dengan tidak dicederai lewat sejumlah kebijakan yang menghambat. Menurut dia, beberapa hal yang dianggap akan menahan laju pertumbuhan industri mamin adalah impor bahan baku penolong, seperti gula rafinasi dan garam.

Selain itu, persoalan cukai plastik yang terus dibahas di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga menjadi kebijakan yang harus diteliti kembali. Plastik dianggap merusak lingkungan, terutama plastik keresek. Dari 17 persen sampah plastik, 67 persennya dari kantong plastik.

Menyinggung cukai plastik, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai, peraturan ini akan berlawanan dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk meningkatkan pertumbuhan industri nonmigas. Ketika peraturan ini diteken, industri yang akan terdampak adalah industri mamin. Sebab, industri ini membutuhkan plastik sebagai alat pengepakan.

Airlangga menyebut, target menjadikan sektor mamin sebagai motor pertumbuhan industri nonmigas pun jelas akan terhambat. Di sisi lain, industi hulu untuk plastik juga masih mengalami pasang surut. Margin profit dari industri plastik di hilir tidak begitu besar. Kalau dikenakan cukai plastik, akan menggerus permintaan plastik.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Gati Wibawaningsih menambahkan, industri yang berhubungan dengan penggunaan plastik seharusnya tidak dibebani dulu dengan kebijakan cukai plastik. Biarkan industri ini maju di tengah perekonomian yang sulit. Setelah industri ini mampu bertahan dan meningkatkan kinerjanya, barulah ada pengenaan cukai plastik. "Mereka jangan direcokin dulu. Kita kan mau gedein dulu IKM. Kalau mereka sudah dikasih cukai plastik, pasti akan susah," katanya.

Khusus gula rafinasi karena menjadi bahan pokok utama dalam industri mamin. Minimnya produksi dalam negeri mengharuskan pelaku industri mamin harus mengimpor komoditas ini. Tetapi, gula rafinasi yang masuk dalam tata niaga pemerintah membuat impor gula kerap dibatasi. Padahal, minimnya gula rafmasi yang dipasok ke industri mamin justru membuat sektor ini kewalahan dalam memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto mengatakan, pihaknya berjanji akan menambah jumlah impor gula rafinasi pada 2017 untuk kebutuhan gula rafinasi. Jumlah ini disesuaikan dengan proyeksi dari Kemenperin bahwa industri mamin bisa tumbuh mencapai 7,8 persen.

Sektor mamin diproyeksikan tum-buh 7,5-7,8 persen pada 2017, lebili rendah dibandingkan 2016 yang angkanya mencapai 8,2-8,5 persen. Sektor industri mamin menjadi motor pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada 2017 yang ditargetkan tumbuh 5,3-5,6 persen, lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1-5,4 persen.

Dari data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), terdapat empat subsektor industri yang memberikan kontribusi paling besar terhadap pertumbuhan industri nonmigas, yaitu industri mamin sebesar 33,61 persen, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik sebesar 10,68 persen, industri alat angkutan sebesar 10,35 persen, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 10,05 persen.

Kemenperin berupaya agar pencapaian semua sektor industri membaik, bukan hanya sektor mamin. Harapannya, sektor nonmigas ke depan bisa menyamai pencapaian industri migas yang selama ini menjadi andalan. antara ed: citra listya rini

Share:

Twitter