SIARAN PERS

Daya Saing Tekstil Lokal Diperkuat Lawan Produk Impor


Kementerian Peridustrian memperkuat daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional agar menghasilkan produk yang lebih berkualitas dibandingkan barang impor serupa sehingga akan mampu memenangi pasar domestik maupun internasional. Apalagi, sektor prioritas ini memiliki rantai nilai dan proses yang telah terintegrasi dari hulu sampai hilir.


“Industri TPT pada tahun ini mulai menunjukkan geliat pertumbuhannya dan diharapkan tahun depan kembali menjadi rising industry yang terus mendorong pertumbuhan industri dan meningkatkan kontribusinya terhadap ekonomi nasional,” kata Sekjen KementerianPerindustrian Syarif Hidayat mewakili Menteri Perindustrian pada acara Wisuda Politeknik STTT Bandung, Jawa Barat, Sabtu (17/12).


Kemenperin mencatat, selama periode tahun 2015, produk industri TPT dalam negeri menyumbangkan nilai ekspor sebesar USD 12,28 miliar atau setara dengan 8,17 persen dari total ekspor nasional. “Selain itu, memberikan surplus pada devisa negara sebesar USD 4,31miliar, yang sebagian besar dari industri pakaian jadi atau garmen,” ungkap Syarif.


Langkah sinergi yang dilakukan Kemenperin bersama pemangku kepentingan terkait dalam menetapkan kebijakan khusus dan tepat bagi peningkatan daya saing industri TPT nasional, antara lain pembebasan pajak pertambahan nilai bagi bahan baku industri TPT yang berorientasi ekspor dan penurunan harga gas yang berskala keekonomian.


Sekjenmenjelaskan, pembebasan pajak pertambahan nilai bertujuan membuat produsen tekstil dan pakaian jadi beralih dari bahan baku impor ke bahan baku produksi dalam negeri. Sedangkan, gas dengan harga yang murah dapat mengurangi beban pengusaha dalam pengeluaran biaya energi karena tarif listrik yang cukup mahal.


Bahkan, ketika memimpin rapat terbatas dengan sejumlah Menteri Kabinet Kerja pada 6 Desember 2016 tentang pembahasan tata niaga produk TPT, Presiden Joko Widodo menyinggung bahwa penurunan harga gas untuk industri TPT merupakan salah satu kebijakan yang perlu diimplementasikan karena memiliki kontribusi signifikan di sisi hulu sektor padat karya ini.


Syarif menambahkan, sesuai arahan Presiden Jokowi, Kemenperin juga tengah berkoordinasi dengan kementerian lainnya dan pihak berwenang untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan importasi ilegal produk TPT dalam bentuk ballpress (karung padat). “Kami juga akan perhatikan dan segera ada tindakan tegas untuk impor baju bekas yang masuk melalui pelabuhan ‘tikus’,” tegasnya.


Di samping itu, menurut Sekjen, pangsa pasar industri TPT Indonesia di dunia masih sangat luas karena saat ini baru mencapai 1,56 persen dari pasar global. Salah satunya perlu mendorong pembukaan pasar industri TPT nasional ke Uni Eropa. “Populasi kelas menengah di dalam negeri yang terus meningkat, juga merupakan peluang bagi industri TPT kita untuk terus meningkatkan pangsa pasarnya,” jelas Syarif.


Syarif menegaskan, dengan masuknya Indonesia sebagai anggota organisiasi perdagangan dunia (WTO) dan organisasi regional lainnya, termasuk pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN, maka penguatan daya saing merupakan kata kunci yang harus diperhatikan agar industri TPT nasional dapat terus meningkatkan eksistensinya baik di pasar dalam maupun luar negeri.


Wisuda 365 lulusan


Pada kesempatan yang sama, Politeknik STTT Bandung, perguruan tinggi di bawah binaan Kementerian Perindustrian yang menyelenggarakan pendidikan vokasi bidang tekstil dan produk tekstil mewisuda sebanyak 365 lulusan tingkat Diploma I-IV. Lebih dari 70 persen dari lulusan tersebut telah diterima bekerja. Sisanya menunggu penempatan dan ada yang berwirausaha.


“Kami memberikan apresiasi terhadap keberhasilan ini karena merupakan hasil kerja sama antara para mahasiswa, orang tua, dosendan pelaku industri,” kata Syarif Hidayatpada acara Wisuda Politeknik STTT Bandung, Jawa Barat, Sabtu (17/12).


Ke-365 alumni tersebut berasal dari berbagai program studi, antara lain kimia tekstil, teknik tekstil, produksi garmen, desain fesyen, penyuluh lapangan, pakaian jadi, dan pembuatan serat. Tercatat 53 orang lulus dengan nilai Pujian atau Cum Laude.


“Kami berharap saudara-saudara yang telah bekerja pada perusahaan industri dapat menunjukkan kompetensi dan profesionalitas dalam bekerja, sehingga dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dan daya saing industri TPT nasional,” ungkap Syarif. Selain itu, diharapkan pula mereka terus membina kerja sama dan jejaring baik sesama alumni maupun dengan pelaku-pelaku industri.


Syarif menyampaikan, dengan kapasitas yang tersedia saat ini, Politeknik STTT Bandung hanya mampu meluluskan sekitar 300 calon tenaga kerja ahli per tahun, sementara permintaan industri terus mengalami peningkatan mencapai 500 orang per tahun.


Untuk memenuhi sebagian permintaan tersebut, sejak tahun 2012 Kemenperin menyelenggarakan program pendidikan Diploma 1 dan 2 bidang tekstil di Surabaya dan Semarang. Program ini kerjasama antara Politeknik STTT Bandung dengan PT. APAC Inti Corpora serta asosiasi dan perusahaan industri tekstil di Jawa Tengah dan JawaTimur.


Selain itu, pada tahun 2015,Kemenperin bekerja sama dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah dan PemerintahDaerah Kota Solo, juga telah membuka Akademi Komunitas Industri TPT untuk program Diploma 2 di Solo Techno Park yang seluruh lulusannya ditempatkan bekerja pada perusahaan industri,” paparSyarif.


Sistem pembelajaran di Akademi Komunitas Industri TPT Solo dilaksanakan dengan mengadopsi konsep dual system dari Jerman, yakni kombinasi pembelajaran setiap semesternya, yang menerapkan pola belajar teori dan praktek di kampus selama dua bulan dan magang di industri selama tiga bulan.


Pengembangan pendidikan vokasional yang berbasis kompetensi saat ini menjadi salah satu program prioritas pemerintah sesuai arahan Bapak Presiden Joko Widodo untuk menyiapkan tenaga-tenaga kerja industri yang kompeten sesuai dengan kebutuhan industri,” tuturnya.


Lebih lanjut, Airlangga menegaskan, ketersediaan tenaga kerja yang kompeten sangat diperlukan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan industri TPT. Sektor padat karya ini menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 2,69 juta orang atau 17,03 persen dari total tenaga kerja manufaktur pada tahun 2015, sehingga sengat berperan mengurangi angka pengangguran dan merupakan jaring pengaman sosial dari segi pendapatan masayarakat.


Dalam upaya meningkatkan kerja sama dengan industri, pada kesempatan itu juga dilaksanakan penandatanganan Piagam Kerja Sama antara Politeknik STTT Bandung dengan tiga perusahaan yang mewakili industri TPT, yaitu PT. GKBI Investment (Jakarta), PT. Sri Rejeki Isman (Jawa Tengah), dan PT. Excellent Quality Yarns (Jawa Timur).


Penandatanganan ini dimaksudkan dalam rangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Vokasi Berbasis Kompetensi sebagai langkah konkret link and match (sasaran tepat guna) antara institusi pendidikan dengan industrinya. Tujuannya adalah untuk mendorong keterlibatan industri dalam pengembangan Politeknik STTT Bandung, dalam hal peningkatan kualitas lulusan, penyediaan tempat Praktek Kerja Lapangan, Penelitian bersama dan Pengabdian Masyarakat serta Pemenuhan kebutuhan SDM Industri.


Demikian siaran pers ini untuk disebarluaskan.



Share:

Twitter