SIARAN PERS

Pabrik Semen dan Terminal LPG Resmi Beroperasi di Banyuwangi


Pendistribusian dan pemenuhan pasokan semen untuk pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa serta Bali dan Nusa Tenggara Barat akan berjalan semakin lancar, didukung dengan beroperasinya grinding plant atau pabrik penggilingan semen yang dibangun oleh kelompok usaha Bosowa di Banyuwangi, Jawa Timur. Realisasi investasi pabrik ini mencapai Rp800 miliar dengan kapasitas produksi sebanyak 1,8 juta ton semen per tahun.

“Kami memberikan apresiasi terhadap upaya yang dilakukan Bosowa Group dalam ekspansi bisnisnyaini melalui pembangunan pabrik penggilingan semendi Banyuwangi sebagai salah satu wujud kontribusi terhadap pengembangan industri semen nasional,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pada Peresmian Grinding Plant dan Terminal Liquefied Petroleum Gas (LPG) Bosowa di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (15/12).

JK menandai peresmian itu dengan menekan sirine dan menandatangani zak semen. Selain Menperin, turut mendampingi Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Annas, Pendiri Bosowa M Aksa Mahmud dan Chairman Bosowa Group Erwin Aksa.

Menurut Airlangga, pertumbuhan konsumsi semen saat ini mulai bergeser ke luar Pulau Jawa dan di Wilayah Timur Indonesia. “Langkah ini sejalan dengan program pemerintah untuk peningkatan danpercepatan pembangunan infrastruktur serta pemerataandan penyebaran industridi seluruh wilayah Indonesia,” ujarnya.

Pabrik semen Banyuwangi ini merupakan proyek industri infrastruktur dasar ketiga yang dibangun oleh Bosowa Corporindo, setelah Semen Bosowa Maros, Sulawesi Selatan (tahun 2000) dan Semen Bosowa Batam, Kepulauan Riau (2014). Hingga November 2016, Bosowa telah menanamkan investasi sebesar Rp1 triliun untuk proyek-proyeknya, di tengah masa resesi ekonomi dunia. Selanjutnya, kapasitas terpasang produksi dari tiga unit pabrik semen Bosowa tersebut akan mencapai 7,2 juta ton per tahun.

Sementara itu, Menperin berharap dengan keberadaan terminal LPG Bosowa di Banyuwangi akan membantu pemenuhan kebutuhan LPG di wilayah Jawa Timur, Bali dan sekitarnya. Selain itu, dapat memperkuat jalur distribusi LPG dari Pertamina untuk Wilayah Timur Indonesia.

Upaya itu menunjang program pemerintah untuk mengkonversi penggunaan minyak tanah menjadi gas yang dimulai pada tahun 2007. Selain sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga, LPG juga dapat menjadi bahan bakar atau bahan baku industri sehingga potensi penggunaan LPG dimasa yang akan datang cukup besar,” papar Airlangga.

Pembangunan terminal LPG di Banyuwangi dengan kapasitas mencapai 10.000 metrik ton (MT) tersebut menelan investasi sebesar Rp787 miliar. Proyek tersebut merupakan salah satu keberhasilan pengembangan usaha dan sebagai wujud nyata kemampuan Bosowa Group melalui anak perusahaannya PT. Misi Mulia Petronusa untuk memanfaatkan peluang distribusi LPG di Wilayah Timur Indonesia.

Chairman Bosowa Group Erwin Aksa mengatakan, peresmian proyek yang sudah diuji coba sejak tahun 2015 ini mengukuhkan ekspansi perusahaan di sektor pertambangan dan energi. Menurutnya, di atas lahan terminal seluas 9 hektar ini akan berdiri sejumlah fasilitas dermaga berkapasitas 6.500 dead weight ton, empat tangki LPG yang masing-masing berkapasitas 2.500 MT, enam unit filling sheds, ruang kontrol, dan fasilitas lainnya.

Erwin menambahkan, Bosowa merupakan perusahaan swasta nasional yang berdiri sejak 1973. Bosowa memiliki enam grup usaha yakni otomotif, semen, pertambangan dan energi, jasa keuangan, properti, dan pendidikan. “Kami telah ada di Jawa Timur sejak 1998 melalui usaha Bosowa Taksi. Sejak tahun 2003 kami mulai mendistribusikan produk Bosowa Semen. Jadi, dari enam grup usaha Bosowa, empat grup telah beroperasi di Jawa Timur, khususnya di Banyuwangi. Kami juga memiliki bisnis jasa keuangan Bank Bukopin dan Bosowa Asuransi,” tuturnya.

Demikian siaran pers ini untuk disebarluaskan.


Sumber Foto: Detik.com (Wahyu Daniel)

Share:

Twitter