SIARAN PERS

Kawasan Industri Berau Siap Jadi Zona Hijau Pengembangan Sawit


Kawasan Industri Berau di Kalimantan Timur siap menjadi zona ekonomi hijau untuk pengembangan minyak kelapa sawit atau palm oil green economic zone (POGEZ). Pembangunan POGEZ ini merupakan inisiatif Pemerintah Indonesia dan Malaysia melalui pembentukan lembaga persatuan negara penghasil minyak kelapa sawit atau Council Palm Oil Producing Countries (CPOPC).


“Selain di Kawasan Industri Dumai, Riau, kami juga menginginkan POGEZ ada di Kalimantan Timur. Nah, Kawasan Industri Berau sudah siap karena didukung dengan ketersediaan fasilitas dan infrastruktur yang memadai,” ungkap Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto usai mendampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bertemu dengan Direktur Utama PT Berau Nusantara Kawasan Industri, Rauf Purnama di Jakarta, Senin (5/12).


Menurut Panggah, Kawasan Industri Berau yang berdiri di atas lahan seluas 3.400 hektar ini telah memiliki pelabuhan, ketersediaan air, listrik, serta industri pulp dan kertas yang sudah beroperasi. “Diharapkan, produk industri hilir yang dihasilkan dari kawasan tersebut dapat memenuhi standard sustainability yang bersertifikat internasional sehingga menciptakan keuntungan berupa preferensi area pemasaran, premium selling price, hingga fasilitas atau kemudahan tertentu lainnya,” paparnya.
Sebelumnya, Menperin Airlangga menjelaskan, pemerintah Indonesia dan Malaysia berkomitmen mendorong pengembangan industri olahan kelapa sawit yang mampu meningkatkan nilai tambah produk dan ramah lingkungan. Apalagi, Indonesia dan Malaysia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia. “Kementerian Perindustrian telah berkomitmen meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit Indonesia melalui hilirisasi,” tegasnya.


Berdasarkan catatan Kemenperin, untuk industri olahan minyak sawit nasional pada tahun 2015, total kapasitas produksi bahan baku crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) sebanyak 35,50 juta ton yang terdistribusi untuk konsumsi domestik sebesar 8,09 juta ton, ekspor produk hilir 15,15 juta ton, dan ekspor CPO 12,26 juta ton. Sedangkan, nilai ekspor yang diciptakan mencapai USD 24,77 juta dan ragam produk hilir yang dihasilkan sebanyak 146 jenis.


Mengenai pembangunan POGEZ, kata Panggah, Indonesia dan Malaysia telah mengusulkan masing-masing tiga lokasi. Pihak Indonesia menginginkan pengembangan di Kawasan Industri Dumai, Riau, Kawasan Industri Berau, Kalimantan Timur, dan Kawasan Industri Sei Mangkei, Sumatera Utara. Sedangkan pihak Malaysia, di Lahad Datu, Bintulu, dan Tanjung Manis.


Ditambahkan Panggah, kedua negara juga akan mengajak negara lain selaku penghasil minyak kelapa sawit untuk masuk dalam CPOPC. Dengan masuknya negara-negara tersebut, diharapkan berdampak positif bagi komoditi CPO di dunia. “Beberapa negara pengembang minyak sawit yang akan ikut bergabung, antara lain Brazil, Nigeria, Pantai Gading dan Thailand,” ujarnya.


Bangun Aerospace Park


Pada kesempatan yang berbeda, Kementerian Perindustrian juga mendorong percepatan pembangunan Aerospace Park atau sebuah kawasan industri kedirgantaraan yang terintegrasi dengan industri pendukung lainnya. “Dalam Aerospace Park tersebut,diharapkan adaindustri pesawat udara, industri komponen, industri MRO, dan industri jasa penerbangan. Selain itujuga terdapat perguruan tinggi sebagai tempat pengembangan SDM kedirgantaraan,” jelasnya.


Keberadaan Aerospace Park yang terpadu akan memberikan dukungan optimal bagi maskapai domestik dalam meraih keselamatan penerbangan, ketepatan waktu, dan biaya perawatan yang efisien. Selanjutnya, kemudahan akses mendapatkan pasokan suku cadang, membuka lapangan kerja, serta potensi besar dalam mendatangkan devisa.


Sementara itu, Ketua Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) Richard Budihadianto mengatakan, pihaknya telah mengusulkan dua lokasi pembangunan Aerospace Park di Indonesia, yakni Bintan, Kepulauan Riau untuk memenuhi kebutuhan di kawasan barat, sedangkan Manado, Sulawesi Utara untuk kawasan timur.


Menurut Richard, Aerospace Park Bintan ditargetkan beroperasi pada akhir 2018. “Di Bintan runway-nya sudah dibangun. Tahun depan mudah-mudahan sudah diaspal dan diharapkan pengelola bisa menyelesaikan pada tahun 2018,” ujarnya


Richard menyampaikan, di Aerospace Park Bintan telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung industri penerbangan, seperti bengkel perawatan dan perbaikan pesawat, gudang penyimpanan suku cadang pesawat, pusat pelatihan, hingga sekolah kejuruan teknik penerbangan. "Semua akan terintegrasi untuk dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pesawat yang beroperasi di dalam negeri," tuturnya.


Indonesia akan memiliki beberapa keuntungan dengan memiliki pusat perawatan dan perbaikan pesawat di dalam negeri. Pertama, perusahaan penerbangan yang beroperasi di Indonesia akan didukung oleh perusahaan perawatan dan perbaikan pesawat atau Maintainance Repair and Overhaul (MRO) di dalam negeri.


Kedua, perusahaan penerbangan tidak perlu melakukan perawatan maupun perbaikan pesawat ke luar negeri, yang harganya sudah pasti lebih mahal jika dibandingkan melakukan perawatan di dalam negeri.


Selain itu, akan terjadi efisiensi, karena Aerospace Park memiliki seluruh layanan yang dibutuhkan pesawat yang beroperasi di Indonesia, seperti kemudahan suku cadang, logistik, hingga pusat penelitian dan pengembangan. Selanjutnya, jika Aerospace Park yang ada tersebut memiliki kapasitas akses untuk menawarkan layanan ke luar negeri, maka akan mendatangkan devisa bagi negara.


Mengenai Aerospace Park Manado, saat ini masih dalam tahap pengajuan dan diharapkan dapat diputuskan untuk menjadi pusat perawatan dan perbaikan pesawat oleh pemerintah. Pengembangan kawasan terpadu industri penerbangan di Manado juga dilakukan untuk mendukung industri penerbangan di kawasan timur Indonesia dan menangkap peluang pasar dari utara.


Demikian siaran pers ini untuk disebarluaskan.



Share:

Twitter