BERITA INDUSTRI

Garam Industri Masih Bergantung Impor


Sumber : Kompas

JAKARTA, KOMPAS — Indonesia hingga saat ini masih bergantung pada garam industri impor. Pemerintah masih berupaya mengembangkan lahan produksi garam industri di kawasan yang potensial.

"Kebutuhan garam industri di Indonesia cukup besar. Namun, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi sehingga terpaksa masih harus mengimpor," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin di Jakarta, Selasa (3/3), seusai menerima kunjungan jajaran Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI). Pada kesempatan itu, Saleh meminta AIPGI bisa menyerap garam petani.

Berdasarkan data yang ada, kebutuhan garam di Indonesia pada 2014 sebanyak 3,33 juta ton. Kebutuhan garam itu meliputi antara lain garam konsumsi 756.000 ton dan garam industri 2,57 juta ton. Impor garam industri pada 2014 sebanyak 2,16 juta ton.

Sebagai gambaran, berdasarkan data AIPGI, garam konsumsi adalah garam yang dapat diolah menjadi garam rumah tangga atau garam meja dan garam diet yang khusus dikonsumsi penderita hipertensi. Garam industri digunakan sebagai bahan baku produksi industri kimia, industri aneka pangan, industri farmasi, industri perminyakan, industri penyamakan kulit, dan pengolahan air.

Sekretaris Umum AIPGI Cucu Sutara mengatakan, AIPGI berkomitmen menyerap sekitar 280.000 ton garam petani dalam dua bulan ke depan. "Sampai Juli bisa (serapan garam petani) sampai 600.000 ton," ujarnya.

Cucu mengatakan, garam petani yang diserap itu untuk garam konsumsi, bukan garam industri. Garam yang diserap itu harus memenuhi standar.

Cucu mengatakan, pihaknya siap menolak impor garam industri jika petani dan produsen garam di dalam negeri mampu menghasilkan garam industri dengan kualitas terjamin. Saat ini hal itu belum terjadi.

Cucu mengungkapkan, impor garam aneka pangan tahun 2014 sebesar 19,9 juta dollar AS. "Namun, ekspor produk industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku garam tersebut mampu menyumbang 4,83 miliar dollar AS," katanya.

Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto menuturkan, Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi dikembangkan sebagai lokasi produksi garam industri. "Faktor penentu produksi garam itu bergantung pada cuaca, tingkat kelembaban, kualitas air, dan luas lahan," katanya.

Menurut Harjanto, Kemenperin mengusulkan agar investasi garam industri di NTT dapat diberi fasilitas keringanan pajak. Fasilitas itu untuk menarik investor masuk ke NTT.

Share:

Twitter